Pelaku Usaha di Sikka Tetap Bertahan Tanpa Bantuan

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Manengah (UMKM) yang tergabung dalam Asosiasi Pelaku UMKM dan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Sikka atau AkuSikka, Nusa Tenggara Timur, mengaku belum mendapatkan bantuan.

“Sampai sekarang bantuan langsung melalui AkuSikka tidak ada,” kata Ketua AkuSikka, Sherly Irawati, saat ditemui di tempat usahanya di Kota Maumere, Selasa (27/7/2021).

Sherly mengatakan, bantuan secara asosiasi tidak ada, tetapi  kalau secara pribadi, ia mengaku tidak mengetahuinya. Dia juga mengaku tak mengetahui jika akan ada bantuan dari pemerintah.

“Kita harus survive dan tidak boleh menyerah, itu yang utama. Kalau pelaku UMKM menyerah, maka tidak bisa makan sehingga bagaimanapun harus mencari celah untuk berjualan, agar dapat uang,” ungkapnya.

Ketua Asosiasi Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Manengah (UMKM) serta Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Sikka, AkuSikka, Sherly Irawati, saat ditemui di tempat usahanya di Kota Maumere, Selasa (27/7/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Sherly mengaku dalam situasi pandemi Corona, pihaknya selalu membagikan program-program pelatihan yang diadakan oleh instansi pemerintah seperti perbankan, kementerian atau lembaga lainnya yang dibutuhkan oleh sesama pelaku UMKM dan ekraf yang tergabung di AkuSikka. Pelathan seperti mengenai bagaimana memasarkan produk, menatanya dan memotretnya untuk dijual secara daring maupun di marketplace.

“Yang paling terdampak sama sekali, yakni yang bergerak di sanggar dan penyewaan busana. Otomatis tidak ada pemasukan sama sekali, karena tidak ada pesta, tapi kita sarankan agar mencari pemasukan lain,” ucapnya.

Sherly memaparkan, anggota AkuSikka yang terdaftar resmi sekitar 75 UMKM dan Ekraf, sementara yang tergabung di grup WhatsApp sekitar 180 pelaku usaha.

Dia menyebutkan, pelaku UMKM tetap berjualan dan mendapatkan omzet, meskipun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan saja.

Sementara itu, A. Dian Setiati, pengelola Kedai Mai Sai mengakui dampak meningkatnya kasus positif Covid-19 dan Kabupaten Sikka masuk sebagai salah satu daerah pemberlakukan PPKM Level 4, membuat pembeli menurun drastis.

Dian mengaku, pihaknya pun membatasi karyawan yang masuk, dalam sehari hanya dua orang setiap shiftnya yang bertugas di kedai kopi dan kasir.

“Kita membatasi karyawan yang masuk dan dibagi per shift, agar tidak banyak karyawan, sebab penjualan pun kembali mengalami penurunan hingga lebih dari 50 persen,” terangnya.

Dian mengakui, meskipun ada pemberlakukan PPKM Level 4, pelaku usaha masih diperbolehkan berjualan hingga pukul 23.00 WITA.

Pihaknya pun tidak mendapatkan bantuan dana oleh pemerintah untuk sektor usaha bengkel kayu dan mesin serta kedai yang baru beberapa bulan beroperasi.

Lihat juga...