Pemanfaatan Partikel Berat dalam BNCT, Tingkatkan Efektivitas Penghilangan Sel Kanker

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Tingginya jumlah pengidap kanker di dunia dan jumlah kematiannya, mendorong para peneliti bidang kesehatan untuk melakukan segala upaya untuk mengembangkan terapi kanker yang memiliki keefektifan tinggi untuk menghilangkan sel kanker. Salah satunya adalah Boron Neutron Capture Therapy (BNCT), yang dikembangkan berbasis teknologi nuklir.

Profesor Riset Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA) Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN), Prof. Yohannes Sardjono, menjelaskan, konsep BNCT ini adalah menggunakan partikel berat untuk menghilangkan sel kanker tanpa mempengaruhi sel lainnya.

Profesor Riset Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA) Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN), Prof. Yohannes Sardjono menjelaskan keefektifan BNCT dibandingkan terapi yang umum digunakan saat ini, dalam acara HIMNI, Jumat (2/7/2021) – Foto: Ranny Supusepa

“Yang mau dicapai adalah keefektifan dalam upaya mematikan sel kanker dengan menggunakan partikel berenergi tinggi dan LET-nya tinggi. Sehingga tidak akan mempengaruhi sel lainnya dan sel kanker pun dapat dihilangkan,” kata Prof. Sardjono dalam acara Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI), Jumat (2/7/2021).

Untuk merealisasikannya, maka yang harus dilakukan adalah mencari cara untuk mengantarkan partikel berat dan LET tinggi tersebut ke sel kanker.

“Itulah alasannya, kita mereaksikan inti Boron dengan Neutron Thermal, untuk menghasilkan partikel alpha. Juga kita mengantarkan Lithium yang memiliki jangkauan pendek dan energinya besar,” ucapnya.

Hingga Juni 2020, BNCT ini sudah digunakan untuk tindakan medis pada kanker kepala dan leher.

“Untuk menghasilkan BNCT ini dulu menggunakan reaktor nuklir. Tapi karena banyak reaktor ditutup karena regulasi, mulai tahun 2009, untuk menghasilkan BNCT digunakan Cyclotron,” ucapnya lagi.

Profesor bidang Kimia Medis, Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Apt. Edi Meiyanto, MSi, menyebutkan adanya dua modalitas yang penting dalam pengembangan BNCT.

“Pertama, sumber proton untuk menghasilkan neutron dan, kedua, senyawa yang memiliki Boron atau Boron Carrying,” katanya dalam kesempatan yang sama.

Alasan penggunaan Boron-10 adalah karena Boron-10 merupakan atom yang sangat kecil tapi memiliki kemampuan menangkap neutron sangat banyak.

“Unsur penangkap neutron banyak, itu ada yang lain. Yaitu Samarium-149, Gadolinium-155 dan Gadolinium-157. Tapi ukurannya besar. Sehingga menjadi tidak ideal untuk digunakan,” paparnya.

Selain itu, senyawa Boron memiliki keunggulan lainnya.

“Senyawa Boron dalam tubuh akan lebih banyak terdisposisi pada sel kanker, dengan perbandingan 3 hingga 4 sel kanker berbanding 1 sel normal. Selain itu, toksisitas sistemiknya juga rendah. Konsentrasi atom Boron-10 jika dihitung adalah 20 miligram per gram jaringan. Dan Boron memiliki tingkat kelarutan tinggi di air,” pungkasnya.

Lihat juga...