Pembatasan dan Keterbatasan Perdalam Makna Berkurban

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Hari raya Iduladha tahun ini dirayakan sederhana oleh sejumlah masyarakat di Lampung Selatan, mengingat masih dalam masa pandemi Covid-19. Namun kesederhanaan ini tak mengurangi makna hari besar tersebut, melainkan justru memberikan makna lebih dalam.

Jupri, warga Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, mengatakan, Iduladha tahun lalu dan sekarang memiliki makna pengurbanan lebih dalam. Pembatasan aktivitas menjadi sarana untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Meski dalam kesederhanaan, tradisi Iduladha yang dirayakan bersama keluarga batih atau inti tetap dilakukan dengan membuat hidangan kuliner tradisional.

Jupri menyebut, sang istri tetap membuat buras, yaitu sejenis lontong khas etnis Bugis. Sejak malam, Rabasia, istrinya, membuat buras dari beras yang akan dihidangkan bersama opor ayam. Buras menjadi hidangan wajib lengkap dengan menu opor, gulai daging yang diperoleh dari panitia kurban. Sebagai pelengkap, ia juga membuat langga, kue ketan seperti lepet yang disantap bersama tape ketan.

Menyiapkan hidangan bagi sejumlah tamu yang berkunjung saat Idul Adha dilakukan Jupri (kanan) saat perayaan Idul Adha 1442 Hijriah dalam kesederhanaan di Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Selasa (20/7/2021). -Foto: Henk Widi

“Dalam perayaan Iduladha dengan kesederhanaan, kami tetap menghidangkan menu tradisional agar anak-anak bisa lebih memaknai hari raya kurban, tetap berbagi dengan kerabat dan tetangga sebagai nilai kepedulian sosial diperlihatkan dengan membagikan hidangan kuliner khas Bugis,” terang Jupri, saat ditemui Cendana News, Selasa (20/7/2021).

Jupri bilang, Iduladha juga menjadi perekat kebersamaan dalam lingkungan yang beragam. Ia menyebut, sebagai warga keturunan Bugis, sejumlah kuliner tradisional langga, buras, tape ketan dan bolu pecca dengan gula merah. Hidangan soto konro yang dibuat dari daging dibuat untuk hidangan bagi sejumlah tamu. Tradisi makan bersama masih kental saat hari raya dalam budaya suku Bugis Bone tempat asalnya.

Rabasia menyebut, ciri khas menghidangkan hidangan saat Iduladha memakai nampan besar. Nampan besar akan diisi dengan beberapa piring lengkap dengan lauk telur dadar, ikan laut kuah, opor ayam. Tambahan gulai daging bisa disajikan saat jatah daging dari panitia kurban telah diberikan. Sebagai pengganti nasi, disiapkan buras yang merupakan lontong khas Bugis.

“Pengganti nasi berupa buras dengan bungkus daun pisang bisa menjadi piring, makan bersama sesuai selera lauk yang disukai,” ulasnya.

Tradisi makan bersama saat Iduladha, sebut Rabasia, dilakukan usai Salat Ied. Meski dilakukan sederhana, tradisi berkunjung ke kerabat tetap dilakukan tanpa salaman atau berjabat tangan. Mkan bersama dilakukan usai saling mengucapkan salam Iduladha seperti saat Idulfitri. Selanjutnya, anak-anak akan mengelilingi nampan berisi beragam lauk lengkap dengan buras.

Haryati, salah satu remaja di Desa Hatta, menyebut tradisi saling kunjung kala Iduladha menjadi simbol persaudaraan. Sebagai warga yang memiliki orang tua asal Yogyakarta, ia mengaku kerap menikmati ketupat dengan opor ayam saat hari raya. Saat berkunjung ke salah satu teman dari Bugis, ia bisa menikmati hidangan kuliner yang unik. Makan bersama menjadi perekat kebersamaan.

“Hidangan telah disediakan dan bungkus buras menjadi alas untuk makan menjadi kenangan masa kecil menyenangkan,” ulasnya.

Kepedulian sosial, sebut Haryati juga dilakukan oleh sejumlah remaja. Melalui arisan kurban, anak-anak remaja di desa tersebut menabung untuk bisa membeli satu ekor kambing. Diniatkan sebagai hewan kurban, setiap tahun daging kurban dibagikan kepada warga yang membutuhkan.

“Diajarkan untuk berbagi kepada kaum duafa dan anak yatim piatu, menjadi makna saat merayakan Iduladha,” pungkasnya.

Lihat juga...