Pembelajaran Daring Berdampak Kurangnya Jiwa Sosial Anak

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Pemberlakuan pembelajaran daring selama satu tahun lebih membuat anak minim sosialisasi dan interaksi. Hal tersebut harus menjadi perhatian orang tua dengan mencukupi kebutuhan sosialisasi anak di rumah.

Salah satu wali murid, Lilik Darmawan, mengungkapkan saat ini anak cenderung mempunyai keasyikan dalam kesendirian. Mulai dari belajar sendiri melalui zoom ataupun grup whatsaap, hingga menikmati hiburan sendiri melalui handphone. Sehingga kebutuhan sosialisasi agak terkesampingkan.

“Jika terlalu asyik dengan kesendirian dalam jangka waktu lama, bisa membahayakan dan berdampak pada berkurangnya jiwa sosial anak. Namun, kondisi saat ini memang mengharuskan pembelajaran online, sehingga tinggal bagaimana orang tua mensiasati kondisi tersebut,” katanya, Kamis (22/7/2021).

Menurut Lilik, sebisa mungkin ia yang memiliki anak sedang masa pertumbuhan remaja dan duduk di kelas 2 SMA, berusaha untuk tetap bisa mencukupi kebutuhan interaksi anak. Caranya dengan sering mengajak mengobrol dan berdiskusi tentang berbagai macam hal.

Salah satu wali murid, Lilik Darmawan di Purwokerto, Kamis (22/7/2021). –Foto: Hermiana E. Effendi

“Setiap malam sebelum tidur, selalu kita manfaatkan waktu untuk berbincang dan berdiskusi, baik tentang materi pelajaran di sekolah, tentang aktivitas zoomnya ataupun tentang kondisi Covid-19 saat ini dan berbagai permasalahan sosial lainnya,” tuturnya.

Lilik menyadari, jika kondisi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat ini, mengharuskan pembelajaran tatap muka (PTM) ditunda demi kebaikan bersama. Sementara untuk pembelajaran daring tetap dibutuhkan peran orang tua, baik sekadar untuk mengingatkan ataupun memantau aktivitas anak dengan handphone atau laptopnya.

“Intinya, kebutuhan sosialisasi anak tetap harus dipenuhi, meskipun di tengah pembelajaran daring, sebab itu akan turut membentuk karakter dan kepribadian anak ke depannya,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu siswa yang baru masuk SMA, Syena Angkasa, mengatakan sejak tahun ajaran baru lalu ia belum pernah bertemu dengan teman-teman barunya di SMA. Meskipun sebagian sudah kenal, karena merupakan teman saat di SMP yang sama, namun sebenarnya ada rasa ingin bertemu dengan teman-temannya dan menginjakan kaki ke sekolah barunya.

“Sebagian sudah kenal dan sebagian lagi baru sebatas melihat di grup whatsaap. Setiap pagi ada zoom dan ikut bersama-sama, tetapi interaksi selama zoom juga terbatas, karena lebih fokus menyimak pelajaran dari guru,” ucapnya.

Untuk lebih mengenal teman-temannya, biasanya dilakukan komunikasi melalui grup whatsaap kelas. Namun, karena sebagian belum saling kenal, terkadang percakapan juga tidak terlalu cair.

“Tetap asyik kalau mengobrol sambil bertemu, karena banyak yang belum kenal langsung,” katanya.

Lihat juga...