Pembelajaran Daring di Banyumas Terkendala Kedisiplinan Siswa

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Meskipun sudah berjalan satu tahun lebih, namun pembelajaran daring masih menemui banyak kendala. Salah satu kendala utama adalah kedisiplinan siswa untuk mengikuti pembelajaran serta masih ada beberapa wilayah yang terkendala sinyal.

Salah satu guru MAN 1 Banyumas, Sujarwo Eko Wibowo SPd mengatakan, untuk siswa usia setingkat MAN, SMA dan lainnya, mengkondisikan supaya lebih disiplin mengikuti pembelajaran daring serta mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru, relatif lebih susah. Karena masuk usia remaja, mereka sudah tidak terlalu takut terhadap guru.

“Anak usia SMA, lebih susah untuk disiplin dalam pembelajaran online sekarang ini. Berbeda dengan anak usia SD atau SMP yang masih ada rasa takut terhadap guru, siswa usia SMA sudah tidak takut lagi. Terlebih lagi, mereka tidak bertemu guru dalam jangka waktu lama, sehingga sama sekali tidak khawatir ketika tidak mengumpulkan tugas tepat waktu ataupun membolos tidak ikut pembelajaran daring,” terang Eko, Kamis (22/7/2021).

Eko mencontohkan, pernah ada kasus salah satu siswa tidak pernah mengumpulkan tugas-tugas yang diberikan guru. Kemudian wali kelas menghubungi orang tua siswa tersebut, ternyata siswa itu selalu rutin meminta uang untuk membeli kuota internet dengan alasan untuk pembelajaran daring.

“Jadi siswa ini tidak pernah mengumpulkan tugas-tugas, kuota internet lebih banyak dihabiskan untuk main game online. Sama sekali tidak ada kekhawatiran atau ketakutan karena tidak mengerjakan tugas,” ungapnya.

Namun, lanjut Eko, kondisi tiap siswa berbeda-beda. Siswa yang rajin mengikuti pembelajaran online dan mempunyai tanggung jawab untuk mengerjakan tugas-tugas juga banyak. Tetapi menurutnya, memang lebih mudah pembelajaran tatap muka untuk mengontrol kedisiplinan siswa.

Guru kelas 10 dan 11 MAN 1 Banyumas, Durotul Khasanah SPd.I menambahkan, kendala lainnya yang masih banyak dialami dalam pembelajaran daring adalah sinyal. Di mana sebagian siswa MAN 1 Banyumas berdomisili di luar Kota Purwokerto.

Kesulitan sinyal ini tidak hanya dialami oleh siswa yang tinggal di wilayah pedesaan saja. Bahkan di kawasan kota juga ada beberapa wilayah yang sinyalnya sulit.

“Kita tidak bisa memarahi siswa kalau tidak bisa ikut zoom pelajaran dengan alasan kendala sinyal.Sebagai guru, kita carikan solusi lain, misalnya  dengan E-learning atau google classroom,” tuturnya.

Menurut Durotul, guru memang lebih dituntut untuk mengembangkan kreativitasnya selama pembelajaran daring. Baik kreatif mencari sarana pembelajaran, maupun kreatif dalam memberikan teknik pembelajaran, supaya siswa dan guru sama-sama tidak mengalami kejenuhan.

Lihat juga...