Penjahit Terampil di Maumere Tergolong Minim

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Kesulitan menemukan penjahit terampil di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat seorang penjahit di Kelurahan Kota Uneng, Maumere membuka kursus dan pelatihan menjahit.

“Saya membuka lembaga kursus tahun 2015 karena sulit mencari penjahit yang terampil,” kata Christiana Kayat, S.Pd, pendiri Lembaga Kursus dan Pelatihan Christine saat ditemui di tempat usahanya di Kelurahan Kota Uneng, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (6/7/2021).

Christiana Kayat,  pendiri Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK) Christine saat ditemui di tempat usahanya di Kelurahan Kota Uneng, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (6/7/2021). Foto: Ebed de Rosary

Christin katakan, saat bersekolah di sebuah SMK di Magelang, Jawa Tengah, dirinya sambil bekerja di butik selama 2 tahun dan tahun 1998 dirinya pindah ke Maumere.

Ia mengaku sempat bekerja di Nely Fashion di Kota Maumere guna belajar memotong pola di butik serta menjahit pakaian secara profesional dan akhirnya disukai pelanggan.

“Setelah modal terkumpul, saya membuka jasa menjahit. Saya kesulitan mencari penjahit yang terampil sehingga saya membuka kursus dan pelatihan menjahit tahun 2015,” ucapnya.

Christin mengaku orang tuanya tidak mampu sehingga tidak bisa membiayai kuliahnya. Dirinya pun mengumpulkan uang dari usaha menjahit agar bisa melanjutkan kuliah.

Disebutkannya, syarat untuk membuka lembaga pelatihan atau kursus harus berijazah sarjana pendidikan sehingga ia pun berkuliah di Universitas Muhamadiyah Maumere jurusan pendidikan.

“Saya tidak tamat SMK dan ikut ujian persamaan. Saya bersyukur bisa diterima kuliah sehingga bisa membuka lembaga kursus ini agar semakin banyak orang bisa memperoleh pekerjaan dengan bekal keahlian menjahit,” ungkapnya.

Christin mengaku awalnya mengajar menjahit di biara susteran di Geliting, termasuk memberikan pelatihan singkat atau kursus bagi masyarakat selama dua minggu hingga sebulan.

Ia mengumpulkan modal sendiri untuk membangun lembaga kursusnya, dan belum mendapatkan bantuan apa pun dari pemerintah karena dirinya ingin mandiri dalam berusaha.

“Saya membangun usaha ini dengan modal sendiri dan tanpa bantuan apa pun dari pemerintah. Saya ingin agar semakin banyak orang menjadi wirausaha dengan bekal keterampilan menjahit yang dimilikinya,” harapnya.

Salah seorang peserta kursus menjahit, Ami Ipir, mengaku sudah sebulan mengikuti kursus menjahit di LPK Christine dan telah bisa membuat pola serta menjahit beberapa model pakaian.

Ami mengaku tertarik menjahit, dan berkeinginan memiliki usaha jasa menjahit sendiri sehingga lebih memilih mengikuti kursus menjahit, daripada melanjutkan kuliah setelah tamat SMA.

“Kalau sudah tamat nanti, saya ingin membuka usaha menjahit sendiri di Kabupaten Lembata. Maka saya nekat mengambil kursus menjahit daripada harus kuliah agar bisa memiliki usaha sendiri,” ucapnya.

Lihat juga...