Penjualan Hewan Kurban di Lampung Tahun Ini Berkurang

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sepekan jelang Hari Raya Iduladha 1442 Hijriyah, penjualan hewan kurban di Lampung, masih sepi. Sejumlah pedagang menyatakan, sepinya penjualan hewan kurban tahun ini karena dampak pandemi Covid-19.

Sutarji, salah satu pedagang hewan kurban khusus kambing, saat ini mengaku baru bisa menjual 10 ekor kambing. Warga Sukajawa yang berjualan di Jalan Tamin, Tanjung Karang, Bandar Lampung itu menyediakan 40 hingga 50 ekor kambing jenis koploh.

Sutarji mengaku telah membuka lapak penjualan hewan kurban sejak awal pekan bulan Juli. Normalnya, ia sudah bisa menjual 20 ekor kambing sepekan sebelum Iduladha atau hari raya kurban. Pembeli merupakan warga yang keluarganya sedang menjalankan ibadah haji. Sebagian warga yang berniat melakukan ibadah kurban, organisasi politik, yayasan dan lembaga sosial.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Sutarji menyebut penjualan hewan kurban berkurang. Meminimalisir kerugian, ia mengaku telah bekerja sama dengan sejumlah pelaku usaha kuliner. Strategi tersebut dilakukan untuk mendapatkan pelanggan, agar agar hewan kurban tetap terjual. Ia mengaku sebagian besar merupakan kambing miliknya sendiri, dan titipan dari peternak.

Sutarji, pedagang hewan kurban di Jalan Tamin, Sukajawa, Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung, Selasa (13/7/2021). -Foto: Henk Widi

“Saya sudah menekuni usaha sebagai belantik kambing sejak sepuluh tahun silam, namun sejak dua tahun terakhir penjualan menurun imbas daya beli menurun, tahun ini juga pembeli hewan kurban yang kerap membeli minimal tiga ekor untuk diserahkan pada panti asuhan, yayasan dan masjid, hanya membeli satu ekor kambing,” terang Sutarji, saat ditemui Cendana News, Selasa (13/7/2021) sore.

Menurut Sutarji, rata-rata kambing koploh atau bertelinga panjang dijual Rp2,5juta. Menjual sebanyak 10 ekor, ia mengaku baru mengantongi hasil Rp25juta. Sebagian pembeli dominan merupakan warga di sekitar Kecamatam Tanjung Karang Barat. Kambing dititipkan oleh pembeli dengan tanda kalung leher yang telah diberi nama. Kambing akan diambil sehari sebelum hari raya Iduladha.

Normalnya Sutarji mengaku bisa mendapat omzet sekitar Rp40juta hingga Rp50juta. Meski permintaan berkurang, pedagang kambing untuk hewan kurban jarang merugi. Pasalnya, ia bisa membeli dari peternak dengan harga Rp1,8 juta hingga Rp2juta. Margin keuntungan Rp350.000 hingga Rp500.000 masih bisa diperolehnya. Kambing yang tidak terjual untuk hewan kurban bisa dijual ke pedagang kuliner.

“Saya kerap telah memiliki penampung, terutama usaha kuliner sate, sop sehingga kambing tetap laku terjual,”ulasnya.

Pedagang hewan kurban lainnya di Tanjung Karang, Dipan, mengaku telah menjual sebanyak delapan ekor kambing dari sebanyak 20 ekor yang disiapkannya. Ia mengaku menyediakan hewan kurban jenis kambing, karena lebih praktis. Kambing yang akan dijual diberi pakan rumput hijau yang diperoleh dari sekitar lapak penjualan kambing.

Dipan bilang, semua ternak miliknya telah mendapat sertifikat veteriner. Sebagian kambing yang dijual mulai harga Rp2juta hingga Rp2,5juta. Saat dibeli oleh pedagang kuliner, ia mengaku bisa menjualnya lebih rendah. Pasalnya, cara terakhir tersebut menjadi cara menekan kerugian daripada harus mengembalikan ke lokasi beternak. Apalagi, sebagian merupakan titipan dari peternak untuk dijual.

“Daripada dikembalikan, tidak laku terjual lebih baik dijual ke pedagang kuliner yang tetap beroperasi,” ulasnya.

Pembelian kambing untuk kebutuhan kuliner sate, sop dilakukan Sujarwo, pemilik usaha kuliner di Jalan Ki Maja, Way Halim. Ia menyebut, dalam sehari menyediakan 4.000 hingga 5.000 tusuk sate. Selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, ia bisa tetap berjualan dengan hanya menerima pesanan dibungkus (take away).

Sujarwo bilang, pada Selasa (13/7/2021) malam pedagang memasuki hari ke dua PPKM Darurat. Ia telah mendapat tawaran dari sejumlah pedagang ternak untuk hewan kurban. Penyedia hewan kurban kerap menawarkan kambing saat tidak terjual. Harga yang ditawarkan lebih rendah daripada saat dijual sebagai hewan kurban. Per satu ekor kambing bisa digunakan untuk dua lokasi usaha kuliner miliknya.

Lihat juga...