Pentingnya Diversifikasi dan Penelitian untuk Pemanfaatan Anggur Laut

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Pengembangan anggur laut mengalami kendala karena sifatnya tidak tahan lama, akibat proses keluarnya kandungan air yang sangat cepat. Proses diversifikasi produk, dilakukan untuk meningkatkan pemanfaatan, baik untuk pangan maupun ke produk kosmetik.

Peneliti Pengolahan Produk Perikanan dan Kelautan BBRP2BKP, Nurhayati, MSi, menjelaskan rangkaian penelitian untuk meningkatkan masa simpan Caulerpa sp, dalam acara pengolahan pangan, Senin (5/7/2021) – Foto Ranny Supusepa

Peneliti Pengolahan Produk Perikanan dan Kelautan, Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan Perikanan (BBRP2BKP), Nurhayati, MSi, menjelaskan, diversifikasi Caulerpa bertujuan untuk meningkatkan umur simpannya yang pendek dan memperluas pasar yang selama ini terbatas pada wilayah pesisir.

“Caulerpa ini memiliki potensi tinggi untuk dikomersialkan, karena memiliki senyawa bioaktif, kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan rumput laut sejenis lainnya, kandungan mineral dan vitamin yang cukup lengkap serta di Indonesia juga banyak ditemukan, selama kita dapat mempertahankan mutu selama penyimpanan dan pendistribusian,” kata Nurhayati dalam acara pengolahan pangan, yang diikuti Cendana News, Senin (5/7/2021).

Caulerpa ini selain diolah, juga dapat dimakan secara langsung, seperti buah anggur yang kita kenal selama ini.

“Bulirnya itu seperti buah anggur tapi ukurannya kecil, menyerupai telur ikan, karena itu di beberapa negara, Caulerpa juga dikenal sebagai Green Caviar. Rasanya asin dan gurih, kecuali jenis racemosa itu memiliki sensasi pedas,” urainya.

Sejauh ini, pemasaran Caulerpa yang membutuhkan waktu lama biasanya dilakukan dalam bentuk dehydrated caulerpa, yang dapat direndam dalam air dingin sebelum dimakan, agar mendapatkan bentuk seperti saat masih segar.

“Kalau yang segar, paling hanya bertahan 4-7 jam. Sehingga hanya penduduk yang dekat dengan lokasi budidaya yang dapat menikmati Caulerpa segar,” urainya lebih lanjut.

Alternatif lainnya, mengubah Caulerpa ke dalam produk lain. Seperti biskuit, kerupuk hingga masker.

“Kalau dari BBRP2BKP kami mengubahnya menjadi saus, daging nabati, mie, permen, garam dan bulir Caulerpa. Yang harapannya, dengan diversifikasi ini maka produk ini akan lebih mudah didistribusikan tanpa menghilangkan khasiat di dalamnya,” tandasnya.

Peneliti Pengolahan Produk Perikanan dan Kelautan, BBRP2BKP, Dr. Bagus S.B.U. M.AppSc, menyebutkan, Caulerpa sp atau anggur laut memang termasuk baru dalam pengembangan produk kelautan.

“Ada berbagai jenis yang ditemukan di wilayah Indonesia. Seperti di Bali, jenisnya adalah C.Lentillifera disebut Bulung Bali. Jenis lainnya, C.racemosa, untuk daerah Lampung disebut pedesan, yang kalau di daerah Lombok disebut raranten,” kata Bagus dalam kesempatan yang sama.

Dari hasil survei, Caulerpa tersebar mulai dari Bintan hingga Maluku dengan berbagai spesies yang memiliki morfologi berbeda.

“Dengan didukung oleh berbagai penelitian yang tak hanya dilakukan di Indonesia, pembudidayaan Caulerpa ini sangat berpeluang. Selain karena memang sumber daya banyak, kandungannya juga sangat mendukung dalam pengembangan untuk pangan fungsional,” tuturnya.

Untuk mendukung proses budidaya, maka penelitian untuk metode penyimpanan maupun upaya menjaga mutu produk perlu dilakukan.

“Ada beberapa metode, salah satunya dengan melakukan dehydrated, yaitu perendaman dengan larutan garam, baik jenuh maupun tak jenuh. Nanti produk akan bisa dikembalikan ke tekstur semula,” tuturnya.

Selain itu, Bagus juga menyebutkan penggunaan kemasan yang baik dan penyimpanan produk dalam suhu dingin juga dikembangkan untuk menjaga kualitas Caulerpa.

“Yang terakhir, yang perlu diperhatikan adalah saat memanen itu harus benar-benar bersih. Kalau yang dari laut, tidak terlalu susah. Yang agak susah itu kalau dari budidaya tambak, yang banyak lumpurnya. Kalau bersih dan tidak tercampur dengan Caulerpa kualitas rendah dan jenis rumput laut lain, maka peluang menjaga kualitas Caulerpa juga lebih besar,” pungkasnya.

Lihat juga...