Permintaan Peti Mati di Bekasi Kembali Normal

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Permintaan peti mati, di sejumlah perajin beberapa waktu terakhir di wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat mulai menurun, jika dibandingkan Juni hingga pertengahan Juli lalu. Namun demikian, permintaan dari rumah sakit dan yayasan masih berdatangan.

“Tiga bulan kemarin, kami sampai kewalahan hingga menolak permintaan untuk peti mati dari dari berbagai tempat,” kata Danih, perajin peti mati di Jatimelati, Pondok Melati, ditemui Cendana News di lokasi produksi di jalan Raya Hankam, Selasa (27/7/2021).

Dikatakan, peningkatan permintaan tersebut datang dari berbagai tempat seperti rumah sakit, yayasan dan lainnya. Bahkan ada permintaan untuk dibuat 700 unit dan terpaksa ditolak, karena harus mengerjakan permintaan yang masuk lebih awal.

Menurut Danih, saat ini permintaan mulai kembali normal. Tapi, dibanding biasanya masih lumayan tinggi. Sehari masih ada 7-10 unit yang keluar.

“Alhamdulillah masih ada sekarang, meski sedikit menurun dibanding tiga bulan lalu, harus kerja siang malam untuk memenuhi permintaan. Sekarang sedikit santai, sehari bisa selesai 10 unit,” jelas Danih juga sebagai ketua Karang Taruna Pondok Melati ini.

Dalam mengerjakan permintaan peti mati, Danih memberdayakan warga sekitar dan keluarga. Menurutnya permintaan menurun sejak 10 hari terakhir setelah berjalannya PPKM Darurat.

Selama ini Danih, melalui yayasan Dwi Lestasi rutin memproduksi peti mati untuk memenuhi permintaan yayasan dan rumah sakit. Sebenarnya permintaan tidak datang dari non muslim saja, tapi semua agama.

“Biasanya yang Islam untuk dikirim ke daerah tertentu, perlu menggunakan peti mati,” jelas Danih.

Danih, (kaos merah), perajin peti mati dari Dwi Lestasi ditemui Cendana News di Jalan Raya Hankam, Kota Bekasi, Selasa (27/7/2021). Foto: Muhammad Amin

Usaha perajin peti mati tersebut menjadi usaha lama Danih bersama keluarga di Jatimelati. Diakuinya selama Pandemi ini, permintaan cukup banyak. Ia menjual satu peti mati dengan harga hanya Rp700 ribu/unitnya. Harga tersebut tidak ada kenaikan meskipun permintaan membludak.

Maman salah satu pekerja menambahkan, sehari rata-rata perajin peti mati di Dwi Lestari mampu memproduksi 10 unit. Karena pekerjaan terberatnya pada finishing seperti dempul, cat dan memasang kain satin putih.

“Bahan bakunya biasanya kayu sengon, tergantung permintaan ada juga menggunakan triplek dengan ukuran tebal. Biasanya untuk keluar kota naik pesawat dan lainnya karena dianggap lebih kokoh,”ujarnya.

Lihat juga...