Petani di Bandar Lampung Mulai Masuki Masa Puncak Panen Petai

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Tanaman pertanian jenis petai milik petani di Bandar Lampung mulai memasuki masa puncak panen. Meski banyak dijadikan tanaman sela, namun cukup mampu untuk mendukung perekonomian warga setempat.

Hasil panen petai Mutmainah petani di Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung yang akan dijual ke pasar, Senin (12/7/2021). Foto: Henk Widi

Mutmainah, salah satu petani di Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Kemiling menyebut petai jadi salah satu komoditi pertanian tahunan. Memasuki bulan Juli, belasan pohon petainya di kaki Gunung Betung mulai panen. Sekali panen bisa mencapai puluhan ikat, ratusan papan atau keris.

Permintaan berasal dari pedagang pengecer di pasar tradisional. Pada tingkat petani harga per ikat berisi 10 papan dijual Rp10.000. Pada level pedagang dijual Rp15.000. Harga tersebut bisa meningkat hingga Rp20.000, namun imbas Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat harga stabil.

Stabilnya harga petai sebut Mutmainah imbas sejumlah warung makan, rumah makan dibatasi jam operasional dan hanya melayani pesanan dibawa pulang (take away). Kebutuhan petai akan meningkat saat warung makan menerima makan di tempat (dine in).

“Buah petai banyak diminati untuk lalapan segar, bahan olahan campuran dengan sayuran pada sejumlah kuliner tradisional sehingga memberi tambahan nilai ekonomi bagi petani yang menanam di kebun sebagai komoditi pertanian yang bisa jadi tanaman sela,” terang Mutmainah saat ditemui Cendana News, Senin (12/7/2021).

Mutmainah mengaku menjual petai dengan harga perempong berisi sebanyak 100 papan seharga Rp100.000. Dalam kondisi sudah dikupas atau kerap disebut biji petai kupas dijual seharga Rp40.000 per kilogram.

Harga petai sebutnya bisa berubah sewaktu waktu menjelang hari raya Idul Adha. Sebab petai kerap digunakan untuk campuran rendang dan harganya bisa mencapai Rp90.000 per kilogram.

Meski petai dianggap sebagai buah yang memiliki aroma kurang sedap, penyebab bau mulut, permintaan pasar masih tinggi.

“Hasil pertanian petai bisa menjadi sumber penghasilan untuk tabungan setiap tahun,” ulasnya.

Ana Marlina, salah satu warga menyebut petai digunakan untuk lalapan atau pencampur gulai daging sapi. Ia juga mengunakan petai sebagai campuran sambal penambah nafsu makan.

Salah satu pedagang sayuran, Hasanah, di Pasar Bambu Kuning mengaku menyediakan petai bersama sejumlah sayuran lain. Meski pasar tradisional tetap diperbolehkan buka sebagai sektor esensial ia mengaku jumlah pembeli berkurang. Sejumlah pelanggan warung makan penyedia kuliner menggunakan petai untuk campuran. Meski sejumlah pedagang tetap beroperasi, ia mengaku jumlah pembeli menurun.

Lihat juga...