Petani di Kawasan Utara Bekasi Sendiri Hadapi Kekeringan

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Ancaman kekeringan di empat kecamatan wilayah utara Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, ada di depan mata. Kondisi tersebut sudah 12 tahun lamanya dirasakan petani di wilayah itu, namun hingga sekarang mereka masih sendiri menghadapi kekeringan.

“Kondisi kekeringan setiap memasuki musim kemarau di utara Bekasi sudah terjadi sejak 2009. Berbagai cara dilakukan, mengadu ke pemerintah daerah, BBWS dan lainnya agar ada solusi, tapi tidak mengubah kondisi alias nihil hasil,” kata Jejen Jaenuddin, Koordinator 16 desa dari empat kecamatan wilayah utara Kabupaten Bekasi, kepada Cendana News, Senin (26/7/2021).

Dikatakan, meski sejak 2009 kondisi saluran air dirasakan memburuk hingga berdampak pada kesulitan air bagi petani, karena saluran irigasi dari hulu ke Sukatani terjadi pendangkalan.

Jejen Jainuddin, koordinator petani 16 desa dari empat kecamatan wilayah Utara Bekasi, dikonfirmasi Cendana News, Senin (26/7/2021). –Foto: M Amin

Saat ini, meskipun presdo dari Kali Cikarang airnya banyak, tapi tidak mengalir ke utara, malah meluber ke samping, bukan turun ke bawah.

Hal itu akibat sedimentasi di saluran Srengseng Hilir kondisinya sangat kronis. Kondisi itu terjadi mulai dari hulu Pintu Air CBL sampai ke saluran Cikarang Srengseng Hilir wilayah Sukatani, dengan panjang mencapai 9 kilometer.

Sehingga, kali Cikarang yang menjadi sumber utama dan diandalkan untuk menyuplai areal pertanian dan persawahan di Utara Bekasi, sekarang tidak bisa mengalir, meskipun sudah diupayakan secara manual.

Menurut Jejen, setiap tahun petani harus kerja bakti dengan cara gotong royong secara manual, jika memasuki musim tanam pada kemarau seperti sekarang. Hal tersebut dilakukan, agar air bisa mengalir ke areal petani, bahkan tidak jarang petani harus swadaya jika upaya manual membersihkan saluran air dari sampah belum berhasil.

“Itu pernah kami lakukan pada 2015 lalu, pertani di empat kecamatan secara swadaya mendatangkan becko untuk normalisasi saluran air, hasilnya mencapai 4 kilometer bisa dinormalisasi. Saat ini kami coba swadaya lagi, untuk mendatangkan becko yang sekarang minta tolong ke DLH untuk membersihkan wilayah hulu di pintu air CBL,” ujar Ustadz Jejen, sapaan akrabnya.

Dia berharap, ada perhatian dari pemerintah dengan mendorong BBWS Ciliwung selaku pemilik saluran air melakukan normalisasi total sepanjang 9 kilometer. Karena persoalan pendangkalan ini terjadi mulai dari Sukatani hingga ke hulu di pintu air CBL Desa Kali Jaya Cibitung, dengan panjang mencapai 9 KM.

“Harapannya, hanya bisa mendapat perhatian dari daerah dan BBWSl karena PJT yang ada sudah dianggap mati suri, tidak ada fungsinya lagi pada aliran sungai. Makanya, sekarang jika ada hujan air banjir ke jalan raya di Blokang, akibat sedimentasi yang tinggi di Sungai Cikarang,” tandas dia, mempertanyakan apakah saluran itu sengaja dibiarkan kering.

Karena, imbuhnya, dulu ada jadwal pembagian air melalui pintu air di Sukatani untuk dialirkan ke beberapa wilayah pertanian di Utara Bekasi. Tetapi saat ini airnya kering, sedangkan warga di utara menggantungkan hidup dari hasil bertani.

Sebanyak 80 persen warga di empat kecamatan Utara Bekasi masih menjalani dan menggantungkan penghasilan dari profesi utama sebagai petani. Adapun luasan lahan di empat kecamatan itu mencapai 7.000 hektare.

Areal pertanian tersebut tersebar di wilayah Kecamatan Cabang Bungin, Sukawangi, Muragembong, Sukatani. Seperti di Desa Jayabakti, Sukakerta dan Desa Pantai Harapan Jaya dan semua  mengandalkan aliran air dari kali Cikarang melalui irigasi Srengseng Hilir, sebagai pasokan air di kala kemarau.

“Saat ini gambarannya di utara atau kami sebut daerah  bawah, jika suasana banjir susah membuang air. Sebaliknya, jika terjadi kekeringan tidak bisa mengairi karena datarannya rata. Ditambah tumpuan utama dari sungai Cikarang yang sudah tidak bisa mengalirkan air, karena pendangkalan,” pungkasnya.

Sementara itu, UPTD LH Bidang Sungai, Hadi, membenarkan bahwa saat ini ia diminta untuk mendatangkan alat berat seperti becko dari para petani.

Ia pun mengatakan, petani masih melakukan kerja bakti di pintu air CBL untuk membersihkan sampah dan sedimentasi di saluran Srengseng Hilir.

“UPTD LH sifatnya hanya membantu untuk bisa mendapatkan alat berat. Saya sudah minta ke BBWC, kemungkinan dalam waktu dekat ini bisa realisasi alat beratnya bisa datang melakukan normalisasi. Ini jadi salah satu ikhtiar, agar kekeringan di Utara Bekasi bisa terbantu,” ungkap Hadi.

Lihat juga...