Petani di Penengahan Manfaatkan Talas untuk Sumber Pangan Alternatif

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Memiliki kandungan karbohidrat tinggi, protein dan lemak membuat tanaman palas dipilih masyarakat Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan sebagai alternatif bahan pangan. Selain itu, budidaya tanaman yang disebut lompong ini juga cukup mudah.

Suwardi, petani di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebut talas jadi komoditas pertanian kaya gizi. Bahkan ia sudah melakukan budidaya sejak puluhan tahun silam. Jenis yang dibudidayakan paling dominan jenis talas atau lompong sayur, talas bogor atau bentul, talas padi.

Dikatakan, teknik pertama pembibitan talas dilakukan dengan umbi. Agar mendapat bibit yang berkualitas, pilih yang dekat dengan indukan yang telah memiliki mata tunas. Disemai hingga tumbuh tunas atau langsung dipindahkan pada media tanam.

“Pada satu umbi talas ukuran besar bisa memiliki mata tunas lebih dari lima, menyesuaikan ukuran, potong ukuran kecil bagian umbi menyesuaikan letak mata tunas lalu tempatkan pada media semai dengan menimbun memakai tanah subur, setelah dua pekan tunas yang tumbuh bisa dipindahkan pada bedengan,” terang Suwardi saat ditemui Cendana News, Senin (12/7/2021).

Tekhnik perbanyakan kedua sebut Suwardi dilakukan dengan memanfaatkan tunas. Tunas sebaiknya diperoleh dari indukan berusia sekitar lima hingga tujuh bulan. Pilih tunas kedua dan ketiga tanpa merusak indukan. Bagian tunas kerap telah memiliki akar sehingga saat pemindahan potensi hidup lebih cepat. Pemindahan tunas sebaiknya langsung pada lubang tanam yang telah diberi pupuk kompos.

Kedua teknik perbanyakan bibit talas itu diakui Suwardi banyak diterapkan petani. Meski demikian budidaya talas kerap dilakukan sebagai tanaman sela, tumpangsari bersama tanaman lain. Dipanen lebih dari empat bulan membuat ia menggunakan lahan untuk budidaya sayuran yang dipanen beberapa minggu. Jenis tanaman pelengkap berupa sawi, selada, kangkung, bayam cabut, kemangi.

“Selain dimanfaatkan umbinya, talas saya panen bagian daun dan batang untuk sayuran, juga pakan ikan gurame dan nila,”sebutnya.

Pemangkasan daun dan batang sebutnya akan meragsang pertumbuhan ubi. Ia memanfaatkan kolam ikan untuk digunakan bagian air sebagai penyiram tanaman. Ikan gurame yang memakan daun talas dan sampah pertanian akan lebih cepat besar.

Pemanenan umbi talas atau lompong yang telah besar usia sekitar 4 bulan milik Suwardi di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Senin (12/7/2021). Foto: Henk Widi

Budidaya talas ujar Suwardi jadi cara menjaga ketahanan pangan. Sebagai petani yang mendapat pelatihan rumah tangga pangan lestari ia menjadikan talas sebagai pangan cadangan. Daun talas dan umbi kerap dijual ke pedagang sayur dengan harga Rp3.000 perkilogram.

“Umbi yang sudah disimpan bisa bertahan asal tunas tidak tumbuh sebagai pengganti nasi dengan cara direbus dan variasi olahan lain,” cetusnya.

Lestari, salah satu pedagang sayuran di Teluk Betung, Bandar Lampung mengaku talas banyak dicari konsumen. Bagian tanamam talas selain umbi dijual bagian daun sebagai kemasan bothok dan pepes. Jenis talas lompong yang memiliki batang hijau bisa menjadi sayuran. Saat pandemi bahan pangan alternatif talas jadi solusi pemenuhan pangan keluarga.

Lihat juga...