Petani di Purbalingga Sukses Kembangkan Lahan Organik Seluas 163 Hektare

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PURBALINGGA — Pertanian organik tidak mudah untuk diterapkan, butuh kesabaran dan ketekunan serta keyakinan untuk melakukannya. Setelah 11 tahun menekuni, kini salah satu petani di Kabupaten Purbalingga, Suwanto berhasil mengembangkan hingga 163 hektare lahan pertanian organik di desanya.

Petani yang mengembangkan lahan organik di Desa Penolih, Suwanto, Senin (19/7/2021). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

“Tidak mudah untuk mengajak petani lain menerapkan pertanian organik, karena memang lebih sedikit repot, namun hasilnya bisa dipastikan jauh lebih baik dari pertanian non organik dan banyak keuntungan lain yang kita peroleh,” kata Suwanto, petani di Desa Penolih, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, Senin (19/7/2021).

Suwanto bercerita, ia mulai tertarik pada pertanian organik tahun 2008 lalu. Selain hasil penjualan panen mempunyai harga lebih bagus, kesuburan lahan pertanian juga terjaga. Sementara bagi petani, kesuburan lahan pertanian merupakan faktor utama untuk bisa melanjutkan aktivitas bertani.

Pada awal menerapkan pertanian organik, Suwanto hanya bisa mengajak dua orang petani saja, total lahan pertanian yang mereka olah dengan cara organik baru 1 hektare. Saat ini, sudah ada 85 petani di desa tersebut yang menerapkan pertanian organik, dengan total luasan lahan organik mencapai 163 hektar.

Hanya saja, lanjutnya, untuk proses sertifikasi lahan organik butuh proses dan waktu. Sehingga dari total 163 lahan organik yang sudah mengantongi sertifikasi organik sampai saat ini baru seluas 11,5 hektar.

“Proses untuk mendapat sertifikasi organik tidak mudah, mulai dari ketentuan menggunakan benih lokal atau benih hibrida yang telah beradaptasi dengan alam sekitar, menghindari penggunaan pestisida sintesis, tetapi dengan pestisida nabati dan lain-lain,” terang Suwanto.

Sertifikasi organik untuk 11,5 hektar lahan pertanian tersebut baru diperoleh Suwanto bersama rekan petani lainnya pada tahun 2018 lalu. Saat ini, beberapa lahan pertanian di desa tersebut sedang dalam proses pengajuan sertifikasi organik.

Menurut Suwanto, sertifikasi organik dibutuhkan untuk bisa memasarkan hasil pertanian organik secara lebih luas, termasuk untuk mencantumkan label organik pada kemasan hasil panen nantinya, karena itu ia terus mendorong pada petani untuk menyehatkan lahan pertanian sehingga bisa mendapatkan sertifikasi organik.

Salah satu petani di Desa Penolih yang juga mengikuti jejak Suwanto untuk bertani organik, Amin mengatakan, pada awalnya memang sempat ada keraguan, namun, setelah melihat hasil penjualan yang mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi, serta kesanggupan Suwanto untuk membimbingnya, Amin pun akhirnya mulai melakukan pertanian organik.

“Setelah dijalani, ternyata tidak sesulit yang kita bayangkan, hanya saja memang butuh kerja lebih keras, seperti menyiapkan pupuk organik sendiri,” ucapnya.

Lihat juga...