Petani Sawit di Lampung Selatan Berkurang

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Berkurangnya penanam sawit jadi penyebab berkurangnya hasil panen yang berdampak pada menyusutnya jumlah pengiriman tandan buah segar (TBS) sawit ke pabrik. Biasanya dalam sekali pengiriman mampu mengangkut sebanyak delapan ton, namun saat ini hanya lima ton.

Lukminto, pengepul TBS sawit yang menjual hasil panen petani ke pabrik pengolahan komoditas minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Natar, Lampung Selatan menyebutkan,  meski ada bantuan pemerintah untuk peremajaan tanaman kelapa sawit (replanting), petani beralih ke komoditas pertanian lain.

“Proses perombakan tanaman sawit sebagian disebabkan oleh sejumlah faktor, di antaranya pembagian warisan tanah sehingga sebagian diubah menjadi tempat mendirikan bangunan, sebagian dialihfungsikan menjadi tempat penanaman komoditas pertanian jenis lain,” terang Lukminto saat ditemui Cendana News, Senin (5/7/2021).

Lukminto menyebutkan, harga TBS sawit pada level petani mencapai Rp1.600 per kilogram. Normalnya bisa mencapai Rp1.900 hingga Rp2.100 per kilogram. Per hektare normalnya bisa menghasilkan sebanyak dua ton. Sejak lima tahun terakhir berkurangnya tanaman menurunkan hasil panen TBS di sejumlah desa di Lamsel.

Hasil pertanian TBS sawit sebut Lukminto diperoleh dari petani di wilayah Kecamatan Ketapang, Penengahan, Palas dan Katibung. Agar bisa memenuhi kuota muatan 5 hingga 8 ton, ia harus menelpon pemilik kebun.

“TBS sawit yang telah dipanen rentan rontok, namun agar bisa memenuhi kuota muatan saya telepon petani sawit sebelum membelinya,” ujar Lukminto.

Pencatatan hasil timbangan oleh Nizar, pengepul TBS Sawit asal Natar yang membeli hasil panen milik Sujarwo di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Senin (5/7/2021). Foto: Henk Widi

Berkurangnya panen TBS sawit imbas jumlah tanaman sawit berkurang diakui Nizar. Ia mengaku sebelumnya dari dua petani sawit saja ia bisa mengangkut sebanyak 4 hingga 5 ton. Namun semenjak berkurangnya penanam sawit ia bisa mengumpulkan 5 ton sawit dari sebanyak enam petani. Petani akan melakukan pengepulan pada salah satu halaman petani pemilik sawit agar bisa ditimbang.

“Bagi petani yang memiliki kebun dekat akses jalan akan lebih mudah namun dominan harus diangkut memakai motor,” ulasnya.

Penurunan harga TBS sawit sebut Nizar berkaitan dengan biaya operasional. Sebab sebagian lahan sawit berada jauh dari akses jalan utama. Setiap pengangkutan membutuhkan biaya sekitar Rp200 per kilogram. Selain itu biaya bongkar muat tetap diperhitungkan. Berkurangnya penanam sawit sebutnya tidak lantas mendongkrak harga.

Sujarwo, salah satu petani menyebut dalam satu hektare lahan sawit bisa mencapai 136 batang. Ia memilih mengurangi setengah lahan untuk ditanami dengan jagung. Menanam jagung menjadi cara petani agar bisa mendapat hasil panen setiap empat bulan. Hasil itu lebih cepat dibanding menanam sawit yang butuh waktu tiga tahun panen.

Lihat juga...