Pinang Miliki Nilai Ekologis Keberlangsungan Satwa dan Ekonomis

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Suara kicau burung gereja, burung kutilang dan sejumlah burung kicau riuh di pohon pinang. Bagi masyarakat pedesaan, pohon pinang menjadi salah satu tanaman yang dilestarikan.

Bagi kehidupan masyarakat tradisional, pinang kerap identik untuk sejumlah acara adat. Susanti, salah satu generasi ketiga petani pinang mengaku masih memanfaatkan buah yang juga dikenal jambe itu.

Susanti bilang menanam jambe di dekat sawah, kebun dan tepi aliran sungai. Sebagian pinang diperoleh dari hasil membeli dari petani lain yang mempertahankan pohon pinang. Bagi warga lokal Lampung pinang dikenal dengan buah jebuk dimanfaatkan sebagai tanaman penahan longsor. Penanaman pada lahan miring ikut memberi dampak positif bagi lingkungan.

Susanti bilang pada tanaman pinang kerap menjadi lokasi bersarang beragam burung. Bagian pepelah pada era belasan tahun silam masih kerap dipakai burung manyar bersarang. Namun kini hanya burung gereja, pipit dan kutilang yang membangun sarang. Sebagian burung menjadi pembantu bagi petani memangsa serangga sebagai predator alami. Sebab hama serangga jenis ulat, belalang jadi pakan alami sejumlah burung.

“Tanaman pinang kerap ditanam petani pada tepi aliran sungai area persawahan sehingga menjadi habitat alami bagi berbagai jenis burung, dampak bagi pertanian tentunya membantu petani agar bisa mengurangi populasi hama terutama pada tanaman padi, sayuran,” terang Susanti saat ditemui Cendana News, Rabu (28/7/2021).

Proses pengeringan buah pinang oleh Susanti di Dusun Bunut, Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Rabu (28/7/2021). -Foto Henk Widi

Susanti menyebut manfaat ekologis bagi lingkungan sebutnya cukup banyak. Tinggal di kawasan perbukitan Bakauheni, ia menyebut tanaman pinang jadi penahan tanah. Sistem penanaman terasering atau berundak pada bukit Bakauheni dikombinasikan dengan batu bersusun. Langkah itu menahan longsor pada tanah miring, pohon jadi habitat burung dan buah pinang bisa dijual.

Buah pinang juga sebut Susanti kerap jadi pakan alami tupai. Buah pinang yang masih muda yang menyerupai kelapa kerap dikerat oleh bajing untuk pakan. Memakan pinang yang masih muda, pinang tua ditandai dengan warna kuning kemerahan ikut terjatuh. Buah pinang bisa dipanen dengan memakai sengget bambu dan sabit. Selanjutnya buah pinang bisa dibelah untuk pemanfaatan bagian biji.

“Kekeringan normal bisa selama lima hari dengan harga bisa mencapai Rp13.000, biasanya mencapai Rp18.000 per kilogram,”terang Susanti.

Dibantu Muhamad Amin sang suami, Susanti memperbanyak tanaman pinang di pekarangan. Penanaman sistem rapat sekaligus berfungsi sebagai penghias pekarangan, pagar pembatas. Banyaknya tanaman pinang sebutnya menjadi habitat datangnya berbagai jenis burung. Berbagai jenis burung menjadi penyemarak lingkungan terutama saat pagi hari.

Pemanfaatan pohon pinang untuk keberlangsungan ekologis diakui Komarudin. Sebagai warga yang memiliki lahan luas di Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, ia membudidayakan pinang. Permintaan pinang yang tinggi sebutnya bukan saja memberi peluang ekonomi. Namun ia menyebut warga mendapat manfaat ekologis dari pohon pinang.

“Tanpa harus memelihara burung sebagai pemangsa alami serangga, pohon pinang jadi habitat alami satwa,” ulasnya.

Penanaman pinang sebut Komarudin sekaligus sebagai sumber pakan alami. Jenis hama berupa tupai memiliki pakan alami sehingga tidak memangsa kelapa, kakao. Sebagai bagian dari rantai makanan, pinang menjadi penyeimbang populasi hama. Tanaman pinang yang dibudidayakan secara berjajar juga menjadi penghias, pagar kebun. Petani juga bisa memanen untuk tambahan penghasilan.

Buah pinang sebut Komarudin bisa ditanam rapat berjarak 2 meter. Penanaman rapat dengan standar tajuk pelepah saling beradu tetap bisa menghasilkan buah produktif. Perbanyakan memakai sistem biji jenis pinang pesisir pantai Rajabasa cukup banyak diminati. Berciri khas buah lonjong, cepat berbuah, lebat menjadikan pinang pesisir banyak dicari.

“Saya membuat bibit ribuan batang dengan penyemaian biji, setelah menjadi bibit dijual ke pemesan untuk penghijauan,” ulasnya.

Sebagai pohon penghijauan, Komarudin menyebut bibit dikirim ke wilayah Pesawaran, Tanggamus dan wilayah lain di Lampung. Penanaman pinang banyak dimanfaatkan warga karena memiliki manfaat ganda. Sebagai pelengkap acara adat buah masih digunakan, tanaman jadi habitat satwa, penahan longsor. Penanaman pinang juga efektif menyerap air terutama pada kaki Gunung Rajabasa yang dimanfaatkan petani untuk menanam pinang.

Lihat juga...