PPKM Darurat, Hotel dan Restoran di Banyumas Tiarap

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat membuat usaha hotel dan restoran sebagai pendukung pariwisata di Kabupaten Banyumas tiarap. Hotel-hotel di kawasan wisata Baturaden sama sekali tidak ada tamu, begitu pun dengan hotel–hotel di Kota Purwokerto.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Banyumas, Irianto mengatakan, selama PPKM Darurat, sama sekali tidak ada tamu dari luar kota yang menginap di hotel. Terlebih lagi, sektor pariwisata sudah ditutup total pascalebaran lalu.

“Jadi sekarang ini kondisinya sudah benar-benar tiarap, tidak ada pemasukan sama sekali untuk hotel, padahal sebelum PPKM darurat diberlakukan, kondisi hotel juga sudah terpuruk dan sekarang lebih terpuruk lagi,” katanya, Minggu (18/7/2021).

Lebih lanjut Irianto menjelaskan, posisi pihak hotel saat ini serba dilematis. Saat kondisi sepi tak ada tamu, namun operasional hotel tetap harus berjalan. Misalnya, hotel harus tetap dijaga kebersihannya, tetap membayar listrik, air dan lain-lain pengeluaran rutin bulanan.

Selain itu, posisi karyawan hotel juga harus tetap diperhatikan. Pihak hotel tidak mungkin menutup mata dengan tidak membayarkan gaji mereka sama sekali, sebab mereka juga mempunyai keluarga yang harus dihidupi dan saat situasi normal nanti, hotel juga kembali membutuhkan para karyawan.

“Semua serba dilematis sekarang, hotel tidak ada pemasukan, namun untuk menutup hotel juga tidak mungkin, karena hotel harus dijaga kebersihannya. Jika dibiarkan tutup, bisa jadi akan banyak peralatan atau perlengkapan yang justru rusak. Pengeluaran rutin bulanan juga tetap harus dibayar, sepeti listrik dan air meskipun hotel tutup. Dan gaji karyawan juga harus tetap dibayarkan, mereka sudah mengalami pengurangan jam kerja, upah sudah turun, jadi tidak mungkin tiba-tiba tidak digaji sama sekali,” tuturnya.

Sama seperti hotel, Irianto juga mengaku mendapat banyak keluhan dari para pelaku usaha restoran. Keharusan hanya menerima pesanan atau take away  dan delivery order (DO), membuat banyak restoran merugi. Ditambah lagi dengan adanya penyekatan–penyekatan jalan yang membuat opersional mengantar makanan semakin sulit.

“Restoran harus menambah biaya opersional untuk mengantarkan makanan pesanan, karena ada sebagian yang ketika biaya pesanan dibebankan kepada konsumen, padahal masih dalam wilayah Kota Purwokerto, konsumen justru membatalkan pesanan, karena dianggap lebih mahal. Belum lagi penutupan jalan-jalan, pernah ada pengantar makanan ini tidak bisa menjangkau rumah pemesan dan ada juga beberapa pesanan makanan yang terpaksa harus dibawa pulang lagi, hal ini tentu menambah kerugian pihak restoran,” ungkap Irianto.

Sementara itu, salah satu pekerja hotel, Widi Astono membenarkan adanya pengurangan jam kerja dan hal tersebut sudah berlangsung cukup lama.

“Sudah lama jam kerja dikurangi dan otomatis gaji juga dikurangi, padahal justru saat ini kebutuhan meningkat, karena harus berbelanja vitamin untuk menjaga imunitas tubuh, sedia obat-obatan dan harus makan cukup gizi,” ucapnya.

Lihat juga...