Program Laptop Merah Putih Dianggap Tidak Efektif

Editor: Maha Deva

Pemerhati pendidikan Vox Point Indonesia, Indra Charismiadji, dalam salah satu acara, Kamis (22/7/2021) - Foto Ranny Supusepa
JAKARTA – Program laptop merah putih, yang digulirkan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud ristek), dinilai kurang efektif, dalam peningkatan mutu pendidikan Indonesia. Apalagi, spesifikasi laptop yang dibuat dinyatakan tidak sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini.
Pemerhati pendidikan Vox Point Indonesia, Indra Charismiadji menyatakan, program digitalisasi pendidikan, tidak cukup hanya dengan pengadaan laptop sebagai patokan. Dan pengadaan laptop tidak bisa menjadi tolok ukur, bahwa sistem pendidikan Indonesia sudah memasuki era digital. “Digitalisasi itu bukan sekedar ada laptop. Tapi ada hal lainnya yang harus dipersiapkan dengan matang, yang menggunakan data dan kajian akademis untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia,” tegasnya, saya dihubungi, Sabtu (31/7/2021).
Ada tiga komponen yang harus disiapkan oleh Kemendikbud ristek secara bersamaan, untuk mengimplementasikan program digitalisasi pendidikan. Yaitu infrastruktur, infostruktur dan infokultur.  “Laptop ini bagian dari infrastruktur, bagaimana dengan infostruktur dan infokulturnya? Ya harusnya disiapkan juga. Kalau tidak disiapkan, maka hasilnya tak akan jauh berbeda dengan program 1Bestarinetnya Malaysia atau program pengadaan tabletnya Thailand,” tandasnya.
Program 1Bestarinet, adalah sebuah mega proyek pemerintah Malaysia dengan anggaran berkisar Rp14 triliun. Program tersebut menyediakan konektivitas internet dan menciptakan lingkungan belajar virtual (virtual learning enviroment) pada 10.000 sekolah di seluruh wilayah Malaysia. Pengadaan laptop chromebook dan Learning Management System (LMS) menjadi bagian dari proyek 1Bestarinet.
“Program ini akhirnya dihentikan pada 2019, karena hasilnya jauh dibawah harapan berdasarkan audit. Dan saya termasuk yang ikut membereskan masalah di Malaysia ini. Yang menjadi penyebab kegagalannya adalah, infrastrukturnya disiapkan, Infostrukturnya disiapkan dengan LMS, tapi Infokulturnya tidak disentuh sama sekali,” urainya.

Kepala Biro Perencanaan Kemendikbudristek, M.Samsuri, saat dikonfirmasi terkait spesifikasi laptop merah putih, Sabtu (31/7/2021) – Foto Ranny Supusepa
Indra menyebut, pada akhirnya, laptop yang diberikan pemerintah Malaysia tidak digunakan karena para pendidik tidak memahami, bagaimana cara menggunakan dalam proses pembelajaran agar optimal. “Kalau disana, akhirnya para orang tua mau membayar untuk mengimplementasikan pembelajaran virtual. Bagaimana kalau kejadiannya di Indonesia? Kalau hanya disiapkan laptop chromebooknya saja. Tanpa mereka memahami penggunaannya,” ujarnya.
Indonesia sebenarnya bisa meniru Singapura, yang membuat perencanaan awal yang matang dengan ICT Masterplan in Education (Rencana Utama Digitalisasi Pendidikan) sejak 1997, dibandingkan dengan programnya Malaysia atau Thailand, yang lebih mementingkan proyeknya daripada nilai manfaatnya. “Saya sangat berharap Kemendikbud ristek membuat kajian yang melibatkan publik, pakar-pakar pendidikan, dan pakar-pakar IT. Lucu sekali, jika Kemendikbudristek membuat kebijakan tanpa riset. Tapi sepertinya selama ini seluruh kebijakan diambil tanpa ada kajian, pelibatan publik, dan uji publik yang jelas,” tandasnya.
Kepala Biro Perencanaan Kemendikbudristek, M.Samsuri menjelaskan, program pengadaan laptop chromebook sebesar Rp3,7 trilyun di tahun 2021, merupakan program dengan tujuan untuk mengakselerasi kebijakan Merdeka Belajar dalam konteks menghasilkan pendidikan yang berkualitas dan merata bagi seluruh masyarakat Indonesia. “Untuk spesifikasi, itu hanya spesifikasi minimal. Nanti yang menentukan belanjanya adalah pemerintah daerah,” katanya menjelaskan dengan singkat, saat dikonfirmasi.
Harga laptop yang akan diserahkan bukanlah Rp10 juta, seperti yang diributkan di dunia maya oleh para netizen. “Tidak ada penentuan harga Rp10 juta, tergantung pada pengadaan di e-katalog,” ujarnya.
Berdasarkan informasi Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (Paudasmen) Kemendikbud ristek, harga satu unit laptop tersebut dikisaran Rp5 juta sampai Rp6 juta. “Dan bukan hanya Zyrex . Bisa juga vendor lain,” pungkasnya.
Lihat juga...