Psikolog Pendidikan: Pembelajaran Daring Berdampak ke Psikologis Anak

Editor: Koko Triarko

Psikolog pendidikan, Ayyin P, saat ditemui di salah satu sekolah di Yogyakarta, Kamis (15/07/2021). –Foto: Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Melonjaknya kasus Covid-19 sejak beberapa waktu terakhir, membuat pemerintah akhirnya kembali menunda pelaksanaan sekolah tatap muka, yang rencananya akan dimulai pada Juli 2021 ini. 

Hal itu berarti seluruh siswa di hampir semua wilayah tanah air harus kembali melaksanakan proses belajar mengajar secara daring atau online, sebagaimana telah berjalan sejak 1,5 tahun terakhir ini.

Menurut psikolog pendidikan di Yogyakarta, Ayyin P, proses belajar mengajar secara online yang berkepanjangan memiliki konsekuensi bagi perkembangan psikologis bagi para siswa. Khususnya siswa di tingkat SD maupun TK dan PAUD.

“Sekian lama tidak berangkat ke sekolah dan bertemu teman-teman sebaya, tentu akan sangat mempengaruhi si anak. Pasti ada rasa kebosanan, ada keinginan untuk bermain. Ini normal terjadi karena pada usia ini anak sedang berada pada tahap belajar bersosialisasi,” katanya, Kamis (15/7/2021).

Melihat fakta yang tak dapat dihindarkan ini, Ayyin menilai perlu adanya peran dari orang-orang terdekat, khususnya keluarga untuk bisa menggantikan kebutuhan yang ‘hilang’ pada anak tersebut. Yakni, dengan lebih banyak meluangkan waktu untuk bermain bersama anak.

“Memang di masa pandemi ini semua merasakan kesulitan. Tidak hanya anak, namun juga orang tua. Tapi meski begitu, orang tua harus tetap bisa memahami kondisi si anak. Dengan tidak serta merta melarang anak bermain di lingkungan terdekatnya,” katanya.

Dengan cara ini, diharapkan anak paling tidak bisa tetap bisa melakukan kegiatan sosialisasi bersama lingkungan terdekatnya. Sehingga, anak akan menjadi lebih fokus saat mengikuti kegiatan belajar-mengajar secara daring dan tidak mengalami kebosanan.

“Kalau hanya mengikuti pembelajaran daring saja, tentu anak akan mudah bosan. Ini yang akhirnya justru membuat pembelajaran daring menjadi tidak maksimal. Karena anak menjadi tidak fokus. Kalau sudah seperti itu, orang tua harus paham dan tidak bolah memaksakan,” katanya.

Metode pembelajaran secara daring yang diberikan guru maupun pihak sekolah, juga dinilai akan sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan program belajar itu sendiri. Sehingga, guru maupun sekolah harus pandai-pandai mendesain sistem pembelajaran daring.

“Memang harus dilakukan dengan banyak variasi. Misalnya, dengan disisipi permainan. Tidak melulu tugas yang mengharuskan anak menatap layar HP atau komputer selama berjam-jam. Karena itu akan membuat anak cepat lelah, hingga kehilangan fokus,” pungkasnya.

Lihat juga...