Pupuk Cair Organik Mulai Mendapat Tempat di Hati Konsumen

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya menggunakan bahan organik untuk menjaga alam, menjadikan pilihan pupuk organik mulai mendapatkan tempat di hati para konsumen. Ditambah, pupuk organik cair ini juga aman dalam penggunaannya, sehingga menambah minat konsumen untuk mempergunakannya.

Pengusaha pupuk cair LUPBA berbasis pisang, Endang Mukti Aristanti, menyatakan pupuk berbasis bahan organik dapat memberikan keuntungan lebih pada penggunanya.

“Karena keunggulan pupuk cair organik yang dapat mempertahankan kesuburan tanah dan memberikan efek positif pada tanamannya, kami yakin pupuk berbasis kulit pisang ini dapat diterima baik di masyarakat, terutama para pecinta tanaman,” kata Endang saat dihubungi, Selasa (27/7/2021).

Pengusaha pupuk cair LUPBA berbasis pisang Endang Mukti Aristanti menjelaskan potensi cerah pemasaran pupuk cair organik berbasis kulit pisang, saat dihubungi, Selasa (27/7/2021). -Foto Ranny Supusepa

Ia menyatakan sudah merencanakan untuk memperluas jaringan pemasaran ke komunitas pengusaha tanaman dan petani atau pekebun, karena tanggapan positif dari konsumen yang ada.

“Saat ini, pemasaran produk dilakukan secara online dan offline dengan kota tujuan yang tercatat adalah Bandung, Jakarta dan Palembang,” ucap wanita yang dalam kerja sama Duo Endang ini merupakan sosok yang bertanggung jawab pada pemasaran produk.

Ia menyebutkan untuk peningkatan produksi akan dilakukan beriringan dengan pembukaan jaringan ke wilayah lainnya dan upaya melakukan pembuatan pupuk cair organik dari limbah buah-buahan lainnya.

“Hingga saat ini, kami hanya mengeluarkan satu varian dengan ukuran 400 ml seharga Rp20 ribu. Tapi memang ada rencana untuk menambah jumlah varian sehingga ada pilihan bagi para konsumen. Dan ada rencana juga untuk membuat hand sanitizer dari bahan limbah alami ini,” ucapnya.

Ia menyebutkan banyak yang memilih pupuk cair karena aromanya wangi dan tidak membuat khawatir ada efek samping racun bila terhirup.

“Apabila terkena tangan juga aman tinggal dibasuh air biasa saja. Dan membantu juga untuk memanfaatkan limbah dapur sehingga tidak bingung memikirkan buang sampahnya. Jadi upaya kita ini selaras juga dengan upaya pemerintah untuk mencapai zero waste dan mengurangi permasalahan sampah,” ungkap Endang.

Dalam kesempatan terpisah, partner Endang Mukti, Endang Pancasari menjelaskan untuk satu kali proses pembuatan yang digunakan adalah 30 kg limbah kulit pisang.

“Kami, saya dan teh Endang Mukti kan tergabung dalam komunitas UMKM Alumni UNPAD. Limbah itu kita dapatkan dari anggota komunitas juga. Jadi hingga saat ini, belum perlu mencari,” kata Endang Pancasari, sehari sebelumnya.

Ia menyebutkan proses yang dibutuhkan dalam satu cycle pembuatan adalah minimal 14 hari.

“Sistemnya itu fermentasi, dengan bantuan gula merah dan air tanah. Jadi mikroorganisme yang ada tetap aktif dan bisa membantu proses penyuburan tanah dan pengembangan tanaman pada setiap level tanaman. Tidak perlu takut, seperti kalau memakai pupuk non organik buatan pabrik yang biasanya harus memperhatikan umur tanaman,” tuturnya.

Dari 30 kg limbah pisang kepok itu, ia menyebutkan akan dihasilkan 100 liter pupuk cair.

“Kalau sudah jadi tinggal dikemas dalam jerigen berukuran 400 ml dan disalurkan ke pihak-pihak yang sudah memesan. Dan kita siapkan stok juga, jika ada konsumen baru yang pesan. Karena biasanya, kalau konsumen yang puas, mereka cerita ke temannya,” pungkasnya.

Lihat juga...