Rantai Pasok Usaha Kuliner di Bandar Lampung Terdampak PPKM

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG —  Sejumlah sektor pendukung rantai pasok usaha kuliner terdampak pandemi Covid-19. Imbas paling terasa dialami sejumlah pedagang kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional di kota Bandar Lampung.

Imbas pembatasan jam operasional usaha kuliner sejak pagi hingga maksimal pukul 20.00 WIB pendukung usaha kuliner terdampak.

Sujarno, pedagang kebutuhan pokok di Pasar Gudang Lelang, Kelurahan Bumi Waras mengaku penjualan berkurang. Ia menyebut penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Mikro telah berlangsung sejak Jumat (25/6/2021) silam. Belum usai pemberlakukan PPKM Mikro, Lampung ditetapkan masuk dalam PPKM Darurat oleh Menteri Perekonomian, Airlangga Hartarto mulai Senin (12/7/2021) hingga Selasa (20/7/2021).

Sujarno bilang efek langsung, sejumlah pedagang kuliner mengurangi porsi yang dijual. Pada kondisi normal sejumlah barang yang dibeli dari tokonya segala jenis bumbu kemasan, beras hingga gula pasir. Waktu operasional, sistem penjualan dibatasi hanya melayani pesanan dikemas (take away) berimbas pada usaha kuliner. Padahal ia menyebut pesanan makan di tempat (dine inn) berpotensi meningkatkan omzet usaha kuliner.

“Sejumlah pemilik usaha kuliner yang menjadi langganan mengeluh karena dengan hanya melayani take away, sebagian memakai aplikasi pesan antar ada sejumlah produk minuman sebagai penyerta, bisa bertahan untuk melayani pelanggan dan balik modal sudah lumayan,” terang Sujarno saat ditemui Cendana News, Sabtu (10//2021).

Normalnya Sujarno dan sejumlah pedagang lain memiliki ekspektasi maksimal jelang Idul Adha 1442 Hijriyah. Sebab pada lebaran haji kebutuhan akan bumbu, kebutuhan pokok akan meningkat. Namun penerapan PPKM Mikro dan Darurat secara berkelanjutan dipastikan pengaruhi sektor rantai usaha kuliner. Sejumlah petani pemasok bumbu, sayuran sebutnya diminta olehnya mengurangi pasokan.

Situasi senada diakui Halimah Saadah, ia mengaku pelanggan dominan pemilik usaha kuliner. Pedagang pecel lele, pecep ayam yang beroperasi hingga dini hari boleh beroperasi hanya hingga pukul 20.00 WIB. Warung kuliner berkonsep tenda di tepi jalan sebutnya jadi konsumen yang memperlancar serapan bahan baku. Namun waktu operasional yang dibatasi berdampak pada serapan produk.

“Beruntungnya sejumlah bahan bumbu dominan yang tidak cepat membusuk, jika demikian kerugian akan bertambah,” ulasnya.

Meski sejumlah pelanggan dari usaha kuliner lakukan pengurangan pembelian, Halimah justru diserbu ibu rumah tangga. Ia menyebut keinginan untuk menyediakan stok bahan kebutuhan pokok mendongkrak penjualan. Penerapan PPKM sebutnya berimbas sebagian warga membeli barang pokok lebih banyak. Sebab sebagian ingin tetap di rumah dan masih memiliki stok bahan pangan.

Hartono Chan, salah satu pedagang mi basah mengaku permintaan meningkat. Meski sebagian pedagang alami penurunan permintaan untuk bahan kuliner ia justru sebaliknya. Kebutuhan mi basah kecil, besar banyak diminati ibu rumah tangga. Stok mi untuk kebutuhan sepekan sebutnya bisa disimpan dalam lemari pendingin.

“Pembelian lebih banyak karena warga ada yang ingin tidak berbelanja selama PPKM, mending istirahat di rumah,” ulasnya.

Salah satu ibu rumah tangga, Novianti, mengaku membeli mi basah dan sejumlah kebutuhan pokok. Stok disediakan olehnya mengantisipasi ia tidak bisa membeli makanan di sejumlah usaha kuliner. Penerapan PPKM Darurat sebutnya membuat ia berencana mengolah masakan sendiri. Ia juga menyebut tidak akan lagi ke pasar untuk menjaga kesehatan selama pandemi Covid-19.

Lihat juga...