Restorasi Ekosistem Hutan Turunkan Gas Rumah Kaca

Editor: Koko Triarko

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Alue Dohong, saat memparkan tentang pentingnya restorasi dan konservasi hutan pada diskusi online di Jakarta, yang diikuti Cendana News, Rabu (14/7/2021). -Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA – Restorasi ekosistem hutan menjadi faktor penting dalam upaya pengendalikan perubahan iklim, utamanya dalam penurunan gas rumah kaca.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Alue Dohong, mengatakan restorasi ekosistem berperan signifikan dalam penurunan gas rumah kaca dan peningkatan stok karbon. Sehingga restorasi menjadi faktor penting yang harus dilakukan dalam pengendalian perubahan iklim.

“Kita serius dalam upaya pengendalian perubahan iklim, dan komitmen Indonesia mengurangi laju gas rumah kaca sebesar 29 persen secara Business As Usual (BAU), dan 41 persen dengan bantuan internasional pada 2030,”  ungkap Alue, pada diskusi online tentang restorasi dan konservasi hutan di Jakarta yang diikuti Cendana News, Rabu (14/7/2021).

Menurutnya, komitmen tersebut tertuang dalam dokumen  Nationally Determined Contributions (NDC). Yang terjabar sangat jelas, yakni dengan pengurangan 29 persen setara dengan 826 juta ton CO2. Sedangkan penurunan 41 persen setara dengan lebih dari 1,02 miliar ton CO2.

Adapun kegiatan restorasi ekosistem terfokus pada berbagai tataran. Yaitu, mulai dari kebijakan, operasional dan implementasi terhadap penurunan emisi karbon maupun  mempertahankan dan meningkatkan stok karbon.

Pada 2015-2021, kegiatan restorasi ekosistem yang dilakukan pemerintah dan multistakeholdere telah berhasil memulihkan lahan seluas 4,69 juta hektare.

“Restorasi ini termasuk lahan gambut dan mangrove. Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas ekosistem hutan dan lahan yang terdegradasi,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya restorasi ekosistem juga dilakukan dalam bentuk izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu restorasi ekosistem (IUPHHK-RE).

Restorasi ini berfungsi mengembalikan kondisi ekosistem hutan yang telah terdegradasi ke keadaan yang mendekati semula. Tercatat hingga saat ini 16 unit  manajemen restorasi yang beroperasi dengan luas kawasan mencapai 622.861 hektare.

Di mana unit manajemen ini terdapat pada berbagai tipe ekosistem. Di antaranya, hutan dataran rendah 24 persen, hutan dataran tinggi 14 persen, ekosistem mangrove 2 persen ekosistem gambut 59 persen dan rawa 1 persen.

Selain itu, mencegah perubahan iklim  dengan penghentian konversi hutan primer dan gambut, penurunan kebakaran hutan, rehabilitas hutan dan magrove, dan pengembangan energi terbarukan.

“Restorasi hutan merupakan solusi untuk mengendalikan krisis lingkungan saat ini,” pungkasnya.

Lihat juga...