RS TC Hillers Maumere Olah 16 Ton Limbah Medis

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Rumah Sakit TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menampung limbah medis maupun limbah Covid-19 dari rumah sakit di Kota Maumere, Puskesmas dan Labkesda Dinas Kesehatan, untuk diolah menggunakan mesin incinerator.

“Sejak Januari 2021 hingga hari ini, sudah 16 ton limbah, baik limbah medis dan limbah Covid-19 yang masuk ke tempat kami,” kata Kepala Instalasi Sanitasi RS TC Hillers Maumere, Fransiscus Lepa Palle, saat ditemui di tempat kerjanya, Rabu (14/7/2021).

Chiko, sapaannya, menjelaskan limbah yang diolah terdiri dari  limbah Covid-19 sebanyak 1.678,3 kilogram dan limbah medis 15,075,2 kilogram, sehingga totalnya ada 16.752,5 kilogram limbah.

Dia menjelaskan, semua limbah ini setiap hari diolah dengan cara dibakar di mesin incinerator yang ada di tempatnya dengan kapasitas maksimal 200 kilogram per hari.

Kepala Instalasi Sanitasi RS TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Fransiscus Lepa Palle, saat ditemui di tempat kerjanya, Rabu (14/7/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Sekali pembakaran maksimal 200 kilogram limbah. Kami lakukan pembakaran sehari dan sehari berikutnya mesin diistirahatkan, agar tidak over produksi dan cepat mengalami kerusakan. Dalam seminggu, mesin incinerator hanya beroperasi empat kali saja,” ungkapnya.

Chiko mengatakan, jumlah limbah tersebut berasal dari RS TC Hillers Maumere, RS Santa Elisabeth Lela, RS Santo Gabriel Kewapante serta 25 Puskesmas dan Labkesda di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka.

Lanjutnya, setiap Sabtu semua limbah selain dari RS TC Hillers akan dikirim ke instalasi pengolah limbah di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Sikka,  agar bisa diolah dengan jumlah limbah yang dikirim maksimal 50 kilogram.

“Seminggu sekali setiap hari Sabtu, rumah sakit lainnya dan Puskesmas serta Labkesda akan mengirimkan limbah medis dan limbah Covid-19 ke tempat kami, untuk diolah di mesin incinerator yang kami miliki,” ucapnya.

Chiko menyebutkan, semua jenis limbah dibakar di dalam mesin incinerator dengan suhu 1.300 derajat Celsius hingga menjadi abu, lalu akan disimpan di dalam bak penampung yang steril agar aman bagi kesehatan manusia.

Sementara itu penanggungjawab limbah di RS TC Hillers Maumere, Mahdi Azari, menambahkan limbah yang diolah menggunakan mesin incinerator, yakni limbah infeksius dan limbah berupa benda tajam seperti jarum suntik.

Mahdi mencontohkan, untuk bulan Januari  2021 jumlah limbah yang diterima mencapai 2.254 kilogram, dan yang diolah menggunakan mesin incinerator  sebanyak 1.962 kilogram.

Ia menjelaskan, residu atau sisa pembakaran bervariasi antara 8,4 kilogram hingga 26 kilogram untuk sekali pembakaran, dengan persentase efisiensi bervariasi antara 82,74 persen hingga 91,43 persen.

“Semua limbah terutama limbah Covid-19 saat diterima akan disemprot disinfektan terlebih dahulu, baru ditimbang. Limbah biasanya telah dibungkus dalam plastik dan telah disemprot disinfektan. Setelah ditimbang, diletakan di tempat penampungan dan saat hendak dibakar baru diambil untuk diolah,” ungkapnya.

Untuk diketahui, limbah infeksius adalah hasil kegiatan pelayanan kesehatan yang berasal dari pengobatan pasien, laboratorium, obat kedaluarsa, dan radioaktif yang berpotensi mencemari dan merusak lingkungan.

Lihat juga...