Rumah yang Urung Rampung

CERPEN GANDI SUGANDI

PAGI-pagi pukul delapan, Witri berupaya membangunkan Uman —suami— yang masih saja tidur lelap. Mulanya dengan panggilan-panggilan lembut, namun tidak mempan.

Lalu dengan panggilan-panggilan cukup keras, tetapi tetap saja gagal. Witri pun menggoyang-goyangkan tubuh Uman hingga bangun.

Tetapi Uman malah berkata,  “Aku masih mengantuk.”

Witri menjadi benar-benar jengkel, membentak,  “Ini sudah siang! Ayam saja sudah bangun sedari subuh!”

Uman membalas, “Apa katamu? Ayam?”

“Iya, pokoknya bangun! Kau sih siang malam main gaple terus.”

“Huh!” Akhirnya Uman dengan terpaksa bangkit dari pembaringan. Segera ke belakang rumah, menuju kamar mandi darurat yang sekelilingnya bertiang bambu, ditutupi baliho bekas.

Hanya ada air seember besar di sana, yang ditimba dari sumur yang sudah dalam. Uman tergesa-gesa mencuci mukanya, lalu kembali ke kamar. Saat dilihatnya Witri sedang duduk menerawang di pinggir kasur, Uman ketus bertanya, “Ada apa lagi?”

“Kang, kita hidup tidak cukup hanya dengan makan. Kita juga harus tinggal di rumah yang layak. Mereka para tetangga selalu ngomongin keadaan rumah. Apa kita tidak malu?”

Uman hanya cengengesan seraya menggaruk-garuk kepala, lalu ngeloyor ke teras depan, langsung berjongkok, menyalakan rokok. Witri mengikuti, mengajak, “Ayo ke Pancuran Tujuh. Mencuci pakaian.” Uman cepat menggeleng.

Akhirnya seperti kemarin-kemarin, Witri pergi bersama anak perempuannya yang berumur tiga tahun. Keduanya menyusuri sepanjang jalan kecil depan rumah sampai buntu —berciri pos kamling RW —kemudian melewati tanah milik tetangga-tetangga, lalu jalan setapak yang curam, hingga sampailah di Pancuran Tujuh.

Di sebelah kiri Pancuran Tujuh ada musala, tempat menunggu yang antre dan anak-anak kecil yang ikut serta.

Di atas pancuran ada bukit yang cukup tinggi, tertutup semak-semak dan rimbunan pohon —dan di sanalah ada beberapa mata air yang tak pernah kering— yang airnya ditampung bak panjang bertembok, yang mengalir ke tujuh batang bambu berjejer, sebagai awal mula sebutan Pancuran Tujuh.

Saat pagi dan sore hari orang-orang berdatangan. Tempat mencuci pakaian sekaligus pemandian umum ini tanpa sekat.

Sementara anak-anak laki-laki dan perempuan menjelang remaja yang datang, tentunya nanti akan bersama-sama orang dewasa mencuci dan mandi.

Bila sedang kebetulan, tua-muda pria dan wanita akan berdampingan, bercampur baur mencuci dan mandi bersama —seperti balita saja yang tidak punya malu.

Kebiasaan Witri, selalu paling lama berada di sini. Bukan karena begitu banyak cucian, tetapi karena sering melamun.

Saat Witri sedang mengucek-ngucek pakaian di ember dengan bertatapan kosong, seorang Ibu tetangga sekampung nyeletuk, “Witri? Sabarlah. Ya, kau menjadi seperti ini kukira karena keadaan rumahmu. Aku juga punya tempat tinggal tidak sekaligus jadi. Dari membangun pondasi sampai layak ditempati sampai dua tahun. Bahkan saudara-saudara pun membantu.” Ibu ini sudah tahu jalan pikiran Witri.

Witri tak hirau, mengambil satu cucian. Membersihkannya dengan guyuran dari air pancuran yang ketiga.

Witri sudah capai hati, setelah empat tahun menikah, perangai Uman masih tidak berubah. Yang hanya sekali-kali ke kota-kota besar mencari nafkah dengan menjadi pekerja kasar.

Itu pun kalau ada ajakan tetangga-tetangganya. Itu pun dengan kebiasaannya yang tidak baik, selalu lebih dahulu pulang meninggalkan teman-temannya yang belum selesai bekerja pada sebuah proyek.

Padahal teman-temannya bisa berbulan-bulan bekerja. Bagi Uman, asalkan telah mendapat uang biar pun tidak banyak, sudah cukup.

Uman berprinsip, selama masih bisa merokok tidak perlu bekerja, lebih enak diam di rumah, tidak ditunjuk-tunjuk orang.

Seraya membersihkan cucian-cucian yang lain, Witri kembali teringat obrolan dengan Uman beberapa hari yang lalu.

“Uang tinggal sedikit, Kang. Kita butuh untuk keperluan sehari-hari. Kapan berangkat lagi ke kota?”

“Nanti, nunggu teman-temanku. Kalau pergi sendiri ke kota, emangnya langsung diajak kerja sama orang? Kan harus bertanya-tanya dulu? Bagaimana kalau tidak ada lowongan?”Jawaban Uman selalu seperti itu, membuat Witri membatin.

Sebenarnya, Witri dan Uman cukup beruntung, kebutuhan beras selalu terpenuhi. Hasil panen dari sawah sepetak kepunyaan Isah —ibu dari Witri— dapat mencukupi makan mereka. Malahan, bila sedang kepepet uang, beras pun biasa dijual ke tetangganya.

Menjelang matahari sepenggalah, Witri pun selesai mandi dan mencuci pakaian. Pulang.
Di depan pos kamling RW, Witri berhenti.

Ya, sudah rutin, telah tampak Uman sedang bermain gaple dengan teman-temannya. Witri berkata, “Kang, nanti jemput aku di sawah ya. Kau bawakan padi.”

Uman mengangguk tanpa menoleh — pandangannya terpaku pada kartu-kartu gaple yang bergeletakan di depannya.

Witri sudah bisa menduga jawaban dari Uman akan seperti ini. Lalu mengulangi berkata, “Nanti kau jemput aku di sawah ya.”

Kali ini, Uman menjawab, “Ya…”  Witri pun berlalu.

Tiba di rumah, buru-buru menjemur pakaian. Kemudian dengan tergesa menuju sawah ibunya yang dekat aliran sungai —lagi-lagi anaknya dibawa.

Sedari kecil Witri sudah diajari ibunya tentang pekerjaan di sawah, khusus untuk perempuan seperti menanam padi, mencabut rumput atau menuai padi.

Di bawah terik matahari, mulai menyabit. Sementara anaknya menunggu di dangau. Seraya menebaskan celurit pada batang-batang padi, hati Witri terus menjerit.

Tak lama, terkumpullah satu tumpukan. Witri hendak beristirahat, menuju dangau, menemui anaknya—sekalian juga menunggu Uman.

Witri mengharapkannya datang untuk membantunya nanti, memukul-mukulkan batang-batang padi ke satu rangkaian bilah-bilah bambu agar bulir-bulir padinya terpisah dari batang.

Ah, lagi-lagi seperti yang lalu-lalu, suaminya tidak nongol juga. Witri kembali membatin. “Suami tak tahu diri. Segala sesuatu mesti aku yang melakukan. Berarti nanti membawa karung berisi padi pun, aku yang akan menggendongnya. Benar-benar kurang ajar.”

Kali ini sakit hati Witri karena kelakuan suami telah berada di puncaknya. Hasil pekerjaannya dibiarkan di sawah.

Dengan berderai air mata, pulang. Tidak peduli biar pun nantinya Uman akan marah karena pulang dengan tangan kosong —Witri telah kebal dengan kebiasaan kasar suaminya yang suka menampar pipinya.

Tiba di rumah langsung ke kamar. Mengurung diri. Benar-benar telah lelah hati. Bertahun-tahun mendengar gunjingan tetangga perihal rumahnya.

Rumah yang belum berpintu depan, meskipun berpintu belakang. Jendela-jendela ruang tamu dan ruang belakang masih kosong melompong tak berkaca —meskipun sudah berkusen.

Semua bagian dinding belum bercat, tampak jelas susunan batako warna abu berperekat adonan pasir dan semen.

Ruangan tamu pun masih berlantai pasir —serupa sungai yang kering. Sementara alat makan minum bertumpuk dalam beberapa baskom, dan perabotan memasak tergeletak begitu saja di dapur berlantai semen.

Witri sekeluarga memang tinggal di rumah yang belum rampung, yang dibangun secara bertahap, telah menginjak pada tahun ketiga, dan uangnya dari Isah, yang menjadi TKI di satu negara.

Setiap malam, Witri sekeluarga tidur di kamar depan. Ruang ini telah berpintu, berjendela kaca, dinding berpelester, dan berlantai keramik putih. Ruang kamar ini untuk beristirahat, tentulah sengaja didahulukan sampai selesai.

Rumah yang ditinggali mereka berada di pinggir satu ruas jalan kecil yang bertembok, di banyak sudut sudah banyak yang terkelupas.

Nyatalah, dasarnya yang berupa tanah berdebu terlihat. Saat kemarau seperti saat ini, saat ada angin berembus, debu-debu terbawa terbang, singgah di teras rumah-rumah orang —tetapi, langsung masuk ke tengah rumah yang ditinggali Witri.

Nyaris setiap hari, bila ada orang yang melewati rumahnya, pastilah berhenti sejenak sembari celingak-celinguk memperhatikan keadaan. Seolah-olah, orang-orang itu mengolok-oloknya.

Sementara untuk kebutuhan dapur, tidak bisa tunda-tunda. Witri pun kerap kali meminjam uang ke saudara-saudaranya bahkan tetangga-tetangganya.

Namun lama-kelamaan, mereka bosan karena keseringan dipinjami. Sementara Uman tetap saja tidak bisa diandalkan.

Sedangkan Isah ibunya, sudah berhenti total mentransfer uang ke rekening Witri. Ini karena Isah pada akhirnya mendapat berita dari sesama TKI yang masih sekampung, bahwa rumah Witri tidak rampung-rampung dibangun.

Uang kiriman tersebut ternyata sebagian dipakai untuk kebutuhan sehari-hari keluarga Witri. Isah juga akhirnya tahu, bahwa menantunyalah yang paling banyak menghabiskan uang —untuk minum-minum mentraktir teman-temannya seraya bermain gaple.

Meski selama itu Witri tetap bertahan, namun menjelang sore ini, batin akhirnya koyak juga. Remuk, hancur. Dapat memiliki rumah yang layak, hanya selalu dalam khayalan —ditambah lagi dengan beban pikiran kebutuhan sehari-hari.

Hingga saat malam tiba, Witri terkulai lemah di kamar. Batin sakit parah karena didera derita bertahun-tahun.
***
SELAMA berhari-hari, hanya tergolek di kamar, badan tak berdaya, tak bernafsu makan, muka pun pucat pasi.

Sedangkan Uman, hanya membelikan obat warung, tak berupaya serius dengan membawanya untuk diperiksa ke dokter —meskipun sesekali menyuapi makan.

Beberapa hari kemudian, di rumah yang urung rampung itu, mata Witri terpejam untuk selamanya.
***

Bandung, Juli 2021

Gandi Sugandi,  cerpenis alumnus Sastra Indonesia, Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat, yang bekerja di Perum Perhutani. 

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...