Saham-saham Asia Jatuh Lagi Tertekan Ketakutan Virus Baru dan Inflasi

SYDNEY — Saham-saham Asia jatuh lagi pada perdagangan Senin pagi, sementara aset-aset safe haven, termasuk yen dan emas, menguat karena selera risiko investor tertekan kekhawatiran kenaikan inflasi dan peningkatan kasus virus corona yang berkelanjutan.

Indeks MSCI saham Asia Pasifik yang lebih luas di luar Jepang turun 0,4 persen, memperpanjang kerugian untuk hari kedua berturut-turut.

Indeks acuan Nikkei Jepang merosot 1,3 persen, seperti halnya indeks acuan saham Australia. Indeks KOSPI Korea Selatan juga terpangkas 1,0 persen, sementara saham Selandia Baru melemah 0,4 persen.

Pertumbuhan ekonomi global mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan, sementara banyak negara terutama di Asia, berjuang untuk mengekang varian delta dari virus corona yang sangat menular dan telah dipaksa melakukan beberapa bentuk penguncian.

Kekhawatiran kenaikan inflasi di pasar untuk waktu yang lama juga menghantui para investor.

Ekonom Bank of America telah menurunkan perkiraan mereka untuk pertumbuhan ekonomi AS tahun ini menjadi 6,5 persen dari 7,0 persen sebelumnya, tetapi mempertahankan perkiraan 5,5 persen untuk tahun depan.

“Mengenai inflasi, kabar buruknya adalah kemungkinan akan tetap lebih tinggi dalam jangka pendek,” katanya dalam sebuah catatan, menunjuk pada angka terbaru dari pengukur inflasi miliknya yang tetap tinggi.

“Kabar baiknya adalah … kita mencapai puncaknya setidaknya untuk beberapa bulan ke depan, karena efek dasar kurang menguntungkan dan tekanan berkurang bergeser dari barang-barang ke jasa-jasa.”

Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell telah berulang kali mengatakan bahwa tingkat inflasi diperkirakan bersifat sementara, menunjukkan bahwa kebijakan moneter akan tetap mendukung untuk beberapa waktu.

Namun, pasar mengalami kesulitan meyakinkan mereka.

Aviva Investors, bisnis manajemen aset global Aviva Plc, memperkirakan pertumbuhan dan inflasi yang lebih cepat akan memberikan tekanan pada imbal hasil obligasi negara jangka panjang.

“Dengan demikian, kami cenderung tetap memiliki investasi lebih sedikit, terutama melalui surat utang negara AS,” kata Michael Grady, kepala strategi investasi dan kepala ekonom di Aviva Investors. “Secara keseluruhan, kami memiliki pandangan netral terhadap mata uang.”

Aksi di pasar uang tetap kurang bergairah pada Senin. Dolar hampir tidak berubah terhadap sekeranjang mata uang utama di 92,640.

Dolar melemah 0,2 persen pada 109,86 terhadap mata uang aman yen, yang dekat dengan terendah satu bulan baru-baru ini di 109,52.

Euro sebagian besar datar di 1,1811 dolar AS. Mata uang Australia yang sensitif terhadap risiko tergelincir ke 0,7392 dolar AS, terendah sejak Desember lalu di awal perdagangan Asia.

Kinerja ekuitas beberapa waktu lalu telah membuat investor gelisah. Ukuran saham global indeks MSCI seluruh negara di dunia misalnya, mencapai rekor tertinggi minggu lalu tetapi kehilangan 0,6 persen. Indeks Dow ditutup turun 0,9 persen, S&P 500 turun 0,75 persen dan Nasdaq turun 0,8 persen.

Kerugian terjadi meskipun data penjualan ritel AS lebih kuat dari perkiraan minggu lalu, yang meningkat 0,6 persen pada Juni, berbeda dengan perkiraan untuk penurunan.

Di radar investor adalah laba perusahaan kuartal Juni dengan Netflix, Philip Morris, Coca Cola dan Intel Corp di antara perusahaan yang akan menyampaikan laporan keuangan minggu ini.

Analis di Bank of America memperkirakan pertumbuhan laba 11 persen akan dikalahkan, yang mereka katakan akan membantu mengisi kembali kepercayaan investor dalam pemulihan makroekonomi dan mendorong rotasi kembali ke apa yang disebut “value stocks“, yang saat ini sebenarnya mereka diperdagangkan di bawah harga.

Sementara itu, emas, salah satu aset safe haven lainnya, naik tipis dengan harga spot di 1.815,4 dolar AS per ounce. [Ant]

Lihat juga...