‘Salinmas’ Mampu Kurangi Produksi Sampah hingga 30 Persen

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Program Sampah Online Banyumas (Salinmas) mampu mengurangi volume sampah yang masuk hanggar di Kabupaten Banyumas hingga 30 persen. Salinmas merupakan aplikasi penjualan sampah, di mana sampah masyarakat yang sudah dipilah-pilah akan dibeli oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) selaku pengelola sampah.

Bupati Banyumas, Achmad Husein, mengungkapkan pihaknya terus berupaya mendorong masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Selain memudahkan petugas, juga akan mempunyai nilai ekonomis.

“Untuk sampah organik dibeli dengan harga Rp100 per kilogram dan sampah yang sudah menjadi kompos akan dibeli dengan harga Rp2.500 per kilogram, jika masih setengah kompos atau belum sepenuhnya jadi kompos, akan dibeli dengan harga Rp2.000 per kilogram,” terangnya, Rabu (21/7/2021).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Junaedi, di Purwokerto, Rabu (21/7/2021). -Foto: Hermiana E. Effendi

Program Salinmas ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk melakukan pemilahan dan pengolahan sampah secara mandiri di rumah masing-masing. Jika sampah sudah terkumpul, maka masyarakat bisa menghubungi KSM setempat untuk mengambil dan membeli sampah. Penjualan sampah juga bisa dilakukan melalui aplikasi Salinmas.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Junaedi, mengatakan saat ini produksi sampah yang masuk ke hanggar sudah berkurang hingga 30 persen lebih.

Sebelumnya dalam satu hari, sampah yang masuk ke tiap hanggar sekitar 30 truk. Setelah program pemilahan sampah lebih dimasifkan lagi, jumlah sampah yang masuk hanggar berkurang menjadi 28 truk per hari. Dan, DHL mentargetkan pemilahan sampah ataupun program Salinmas bisa mengurangi sampah hingga 50 persen. Jika sampai 50 persen, maka sampah yang masuk ke hanggar hanya sekitar 15 truk per hari.

“Kuncinya memang pada pemilahan sampah, makin pemilahan berjalan maksimal, maka residu yang keluar dari hanggar akan berkurang juga. Idealnya, residu yang keluar dari hanggar minimal hanya 50 persen dari total sampah yang masuk. Jadi, misalnya masuk sampah 4 truk, maka residu yang dibuang keluar harusnya hanya pada kisaran 2 truk saja,” jelasnya.

Menurut Junaedi, saat ini setiap hanggar sudah mempunyai mesin pencacah atau pemilah otomatis, hanya saja kapasitasnya masih kecil dan belum semua hanggar memilikinya. Sehingga tetap diperlukan partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah atau KSM menambah tenaga pemilah sampah.

Junaedi menegaskan,  berkurangnya volume sampah yang masuk ke hanggar sangat bergantung pada pemilahan sampah di tingkat KSM.

Lihat juga...