Sampah Masih Penuhi Pesisir Pantai Pulau Kojadoi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Sampah masih memenuhi pesisir pantai di Pulau Kojadoi, Desa Kojadoi, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama saat musim gelombang dan angin kencang melanda wilayah ini.

Penyelam anggota Maumere Diver Community (MDC) Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Agustinus Andidakus saat ditemui di Pulau Kojadoi, Desa Kojadoi, Selasa (29/6/2021). Dok : Ebed de Rosary

“Saat gelombang dan angin kencang sampah pasti banyak di pesisir pantai Pulau Kojadoi,” kata Samyadin, warga Desa Kojadoi, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, NTT, saat dihubungi Cendana News, Rabu (14/7/2021).

Samyadin mengakui, saat musim gelombang besar disertai angin kencang, sampah-sampah akan terbawa gelombang dan angin, hingga terdampar di pesisir pantai utara dan selatan di Pulau Kojadoi.

Dirinya mengaku setiap hari selalu mengumpulkan aneka jenis sampah, terutama sampah plastik bekas botol minuman, bungkus kopi dan susu serta aneka bahan plastik lainnya.

“Paling banyak sampah plastik, selain juga sampah berupa kain dan juga dedauan dan ranting pohon. Paling saya kumpulkan di pinggir pantai lalu dijemur hingga kering dan dibakar,” ucapnya.

Menurut Samyadin, warga Desa Kojadoi sebagian besar sudah sadar dan tidak membuang sampah ke laut.

Hal ini terjadi karena desa mereka merupakan desa wisata bahari dan telah meraih penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) tahun 2019.

Samyadin mengaku, beberapa kali Trash Hero Maumere datang ke desanya dan memberikan edukasi kepada para pelajar sekolah dasar dan masyarakat, mengenai dampak membuang sampah sembarangan.

“Pemerintah desa dan warga juga telah menyediakan tempat-tempat sampah yang dibuat dari bambu dan diletakkan di depan rumah serta lingkungan perkampungan,” ucapnya.

Sementara itu, Agustinus Andidakus salah seorang anggota Maumere Diver Community (MDC) yang ditemui di Pulau Kojadoi mengakui, sampah masih banyak ditemui di pesisir pantai pulau mungil ini.

Andidakus menyebutkan, sampah rata-rata terbawa arus dan gelombang tinggi yang biasa terjadi saat menjelang sore hari.

Menurutnya, meski begitu, namun sampah yang terbawa arus ini tidak terlalu banyak, asalkan setiap hari dipilih dan dikumpulkan agar bisa dibakar.

“Kalau dipilih setiap hari sampahnya tidak banyak menumpuk. Yang sulit kalau sampah dari kain karena biasanya akan tertanam di pasir atau tenggelam di dasar laut, beda dengan plastik yang lebih banyak terapung,” ucapnya.

Andidakus mengakui, selama pelaksanaan kegiatan transplantasi terumbu karang di Desa Kojadoi bersama MDC, dirinya bersama teman-teman setiap hari memungut sampah-sampah di pesisir pantai.

Lihat juga...