Sapi Limousin Masih Jadi Primadona Untuk Kurban

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Sapi jenis limousin masih menjadi primadona pilihan masyarakat yang ingin berkurban. Bentuk tubuh sapi yang padat berisi, menjadi daya tarik utama.

“Tahun ini saya bawa 15 ekor sapi, mulai dari jenis limousin hingga simental. Dua jenis ini yang paling banyak dicari. Terutama limousin, meski struktur pertulangannya besar, namun memiliki daging yang melimpah, karkas tinggi, sehingga bisa dibagikan kepada lebih banyak penerima daging kurban. Selain itu, dari segi kualitas daging, juga lebih baik karena mengandung sedikit lemak,” papar Budi, pedagang hewan kurban saat ditemui di wilayah Pedalangan, Banyumanik Semarang, Selasa (13/7/2021).

Dipaparkan, bobot limousin bervariatif, namun rata-rata antara 400-500 kilogram. Harganya sekitar Rp22 juta. Sementara untuk limousin seberat 700 kilogram, dijual Rp33 juta.

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, saat dihubungi di Semarang, Selasa (13/7/2021). –Foto: Arixc Ardana

“Harga masih bisa ditawar. Tentunya makin berbobot makin mahal,” tambahnya.

Dirinya mengaku, meski tahun ini tidak seramai tahun lalu, namun penjualan sapi masih lebih bagus. Setidaknya sampai hari ini, dirinya sudah menjual lima ekor sapi dan 13 ekor kambing.

“Nanti menjelang 3-4 hari sebelum Iduladha, biasanya menjadi puncak penjualan,” terangnya.

Budi juga menandaskan, jika nantinya stok hewan kurban habis terjual, dirinya bisa minta dikirim lagi. “Ini juga menyesuaikan kebutuhan dan daya tampung kandang. Apalagi, kita juga menyediakan pemeliharaan hingga pengiriman jelang Iduladha,” tandasnya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, saat dihubungi terpisah juga menjelaskan, bahwa sapi jenis limousin menjadi pilihan utama masyarakat yang ingin berkurban.

“Sapi limousin merupakan tipe sapi potong dengan perototan yang lebih baik dibandingkan sapi lokal. Dengan bobot yang lebih berat serta kandungan daging yang lebih banyak, sapi ini memang menjadi pilihan utama untuk hewan kurban,” terangnya.

Di satu sisi, seiring dengan edaran dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Jateng Nomor 524.3/1493, tentang Pengawasan Pelaksanaan Penyembelihan Hewan Kurban pada Iduladha 1442 H, tertanggal 7 Juni 2021, pihaknya juga masih melakukan pelarangan jual beli sapi Bali di wilayah Kota Semarang.

“Sesuai surat edaran tersebut, kami juga diminta untuk melakukan kegiatan pencegahan penularan penyakit hewan menular strategis dan zoonosis. Termasuk dengan pemeriksaan dokumen kesehatan hewan atau surat keterangan kesehatan hewan (SKKH), pengawasan kesehatan hewan di tempat penampungan dan penjualan hewan kurban, hingga pengawasan terhadap lalu lintas ternak. Terutama terhadap masuknya sapi Bali ke wilayah Jateng, termasuk di Kota Semarang,” terangnya.

Diterangkan, dengan adanya surat edaran tersebut, pihaknya pun melarang adanya jual beli sapi Bali di Kota Semarang. “Ini yang dilarang hewan sapi Bali, sapi hidup, karena ditakutkan dapat menularkan penyakit hewan, khususnya penyakit jembrana. Sementara untuk daging sapi Bali, tidak dilarang untuk diperjual belikan, sebab aman untuk dikonsumsi, ” pungkasnya.

Lihat juga...