Sayuran Organik Masih Jarang Dikembangkan di Sikka

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Sayuran dan buah-buahan organik masih jarang dibudidayakan petani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam jumlah besar karena permintaan pasar masih terbatas.

Petani hortikultura di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, NTT, Yance Maring saat ditemui di kebunnya, Senin (19/7/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Kami tidak berani menanam sayuran dan buah-buahan organik seratus persen karena sulit menjualnya dalam jumlah banyak,” kata Yance Maring, petani muda di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui di kebunnya, Senin (19/7/2021).

Yance mengakui, petani hortikultura di Kabupaten Sikka sudah banyak yang menanam tanaman hortikultura dalam skala besar dengan jumlah populasi yang banyak.

Disebutkannya, rata-rata petani muda menggarap lahan minimal seluas satu hektare dengan menanam satu jenis tanaman minimal tiga ribu pohon.

Lanjutnya, biasanya ditanam dua jenis tanaman dalam satu areal, dengan kebanyakan menanam tomat dan lombok.

“Semuanya menggunakan pupuk pestisida kimia dan pupuk buah yang digunakan pun berbahan kimia. Bila semuanya organik maka petani mengalami kerugian karena biaya produksi akan lebih besar,” ungkapnya.

Selain itu sebut Yance, petani kesulitan memasarkan hasil produksinya dalam jumlah besar karena tidak ada penampung yang rutin membeli produk sayuran organik.

Dia mengaku tidak bisa menjamin produk yang dikatakan organik seratus persen organik karena benih yang digunakan serta tanah dan air pun mungkin sudah tercemar bahan kimia.

“Petani kesulitan menjual produk pertanian organik seperti sayuran dalam jumlah banyak karena harga jualnya lebih mahal dan pembeli terbatas. Pestisida organik pun sulit diperoleh dalam jumlah banyak,” ungkapnya.

Sementara itu Mateus Manu staf Caritas Keuskupan Maumere yang mendampingi delapan kelompok tani organik pun mengaku tidak bisa memastikan semua produk sayuran yang dihasilkan seratus persen organik.

Mateus menyebutkan, saat pertama tanam pihaknya masih membeli benih yang dijual di toko, dimana tidak bisa dipastikan apakah benih tersebut murni organik atau sudah tercemar bahan kimia.

“Lahan yang dipergunakan petani pun sebelumnya dipergunakan untuk budidaya sayuran non organik sehingga pastinya lahan sudah tercemar,” ujarnya.

Mateus katakan, ini yang membuat banyak petani yang masih mengembangkan sayuran organik dalam skala kecil di pekarangan rumah mereka.

Selain itu sebutnya, petani lebih suka menanam sayuran organik menggunakan polybag karena mudah merawatnya serta lebih banyak untuk dijual ke masyarakat sekitar rumah mereka.

“Penjualan pun masih terbatas karena rata-rata masyarakat di Kabupaten Sikka ingin membeli sayuran dengan harga murah. Situasi pandemi Covid-19 membuat daya beli masyarakat juga menurun,” ungkapnya.

Lihat juga...