Sede Vacante Keuskupan Tanjungkarang Diisi Delegatus ad Omnia

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Salah satu momen penting dan bersejarah dalam tradisi gerejawi terjadi dalam gereja Katolik keuskupan sufragan Tanjungkarang, Lampung.

Secara resmi uskup Tanjungkarang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono mengumumkan sece vacante yang berarti tahta kosong setelah ia diberi mandat oleh tahta suci Vatikan menjadi uskup Agung Metropolitan Palembang, Sumatera Selatan.

Mgr. Yohanes Harun Yuwono dalam pengumuman secara virtual menyebut ia juga langsung ditunjuk sebagai administrator apostolik keuskupan sufragan Tanjungkarang. Jabatan administrator apostolik dalam gereja Katolik tersebut diakuinya akan berlangsung hingga terpilih uskup baru. Penunjukannya sebutnya dilakukan oleh bapa Paus Fransiskus di Vatikan, Roma.

Pengangkatannya sebagai uskup agung atau metropolitan Palembang sebutnya menjadi sebuah refleksi. Sebab saat uskup Tanjungkarang baru terpilih akan menjadi angin segar dalam perziarahan yang lebih dinamis, bergelora. Ia menyebut akan ada blessing in disguise atau berkah terselubung. Sebagai uskup agung ia memiliki tugas mengawasi pengajaran iman Katolik.

“Sebagai uskup agung saya bisa mengintervensi uskup sufragan jika ditemukan ajaran iman yang tidak benar, selain itu tugas saya tetap sebagai uskup biasa seperti uskup sama seperti keuskupan lainnya,” terang Mgr. Yohanes Harun Yuwono secara virtual, Minggu petang (11/7/2021).

Mgr. Yohanes Harun Yuwono menyebut penunjukkannya sebagai uskup agung  sesuai hukum kanonik. Merujuk pada kanon 481 paragraf 1, kanon 131, kanon 1420 paragraf 5, kanon 501 paragraf 2 Kitab Hukum Kanonik dengan dipindahkannya uskup diosesan ke keuskupan lainnya maka jabatan dan kuasa vikaris jenderal dari keuskupan yang ditinggalkannya dengan sendirinya demisioner atau berhenti.

Oleh karena itu lanjut Mgr. Harun Yuwono, demi perjalanan aktivitas pastoral maka dibutuhkan delegatus ad omnia. Delegatus ad omnia adalah pribadi yang bertindak berdasarkan delegasi administrator apostolik. Dirinya yang merupakan administrator apostolik mengangkat Romo Yohanes Samiran, SCJ sebagai delegatus ad omnia di keuskupan sufragan Tanjungkarang.

“Dengan demikian fungsi fungsi fungsi di kantor sekretariat kuria keuskupan Tanjungkarang masih berjalan sebagaimana biasanya,” tegasnya.

Mgr. Harun Yuwono bilang dewan penasehat uskup yaitu dewan konsoltores dengan sendirinya masih ada tanpa membutuhkan peneguhan kembali. Dewan keuangan keuskupan dan ekonom keuskupan akan tetap melaksanakan tugasnya melalui surat peneguhan kembali yang akan ditetapkan. Selain itu tugas tugas gerejawi tetap dilakukan seperti biasanya.

Sede vacante atau tahta kosong di keuskupan sufragan Tanjungkarang jadi momen istimewa. Bagi sebagian umat Katolik ditunjuknya Mgr. Yohanes Harun Yuwono sebagai sebuah berkah. Hal itu diungkapkan Yakobus, salah satu umat di Paroki Ratu Damai, Teluk Betung. Ia menyebut sede vacante merujuk pada kekosongan tahta suci yang terjadi setelah kematian atau pengunduran diri seorang paus di Basilika Santo Yohanes  Lateran, Vatikan.

“Tahta kosong atau sede vacante terjadi di keuskupan Lampung usai Mgr. Hermelink, Mgr. Andreas Henri Soesanto dan kini Mgr. Yohanes Harun Yuwono,” ulasnya.

Bagi gereja partikular khususnya di Lampung sebut Yakobus, dinamika sede vacante menjadi hal yang bersejarah dan istimewa. Sebab tahta kosong atau sede vecante terjadi karena uskupnya mendapat penugasan baru ke keuskupan agung  atau keuskupan metropolis Palembang. Ia dan umat Katolik di Lampung menyebut berharap keuskupan Tanjungkarang segera mendapatkan uskup baru.

Sede vecante bagi gereja Katolik di Lampung sebut Yakobus juga terbilang istimewa. Sebab sejak tahun 2020, umat jarang bertatap muka dengan Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Sebagai uskup Tanjungkarang, persembahan ekaristi atau misa yang kerap diikuti langsung diganti dengan misa virtual. Imbas pandemi Covid-19, seluruh gereja di Lampung tetap menjalankan ibadah dengan pembatasan, sebagian secara virtual.

Lihat juga...