Selama Pandemi Penerimaan Siswa Baru di Jember Berkurang

Editor: Koko Triarko

JEMBER –  Penerimaan Peserta Didik Baru menjadi (PPDB) menjadi peluang bagi setiap siswa untuk melanjutkan studi pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Namun, selama pandemi Covid-19, penerimaan peserta didik baru relatif lebih menurun.

Kepala Sekolah SMPN 7 Jember, Syaiful Bahri, mengatakan jumlah penerimaan peserta didik baru mengalami penurunan yang cukup tinggi selama masa pandemi Covid-19.

“Selama lebih satu tahun pandemi Covid-19 dan beberapa kali masuk dalam masa PPDB, jumlah siswa yang melanjutkan ke jenjang pendidikan makin berkurang,” ujar Syaiful Bahri, di Jember, Kamis (29/7/2021).

Syaiful mengaku, setiap lembaga memiliki kuota batasan peserta didik yang dapat diterima menjadi di masing-masing sekolah, sesuai jumlah kapasitas kelas yang ada.

Linda Ang, orang tua siswa  di Jember, Kamis (29/7/2021). Foto: Iwan Feriyanto

“Di sekolah saya, dalam satu kelas siswanya sebanyak 32, sedangkan ruangan kelas yang tersedia 10 kelas. Jadi, jumlah siswa yang diterima 320 siswa. Tetapi akan ada siswa yang tidak lolos seleksi, dan jumlah banyak hampir ratusan. Saat ini siswa yang tidak lolos hanya ada 15 orang,” ungkapnya.

Syaiful mengaku, ada penurunan jumlah siswa yang melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Syaiful menyebutkan, tingkat minat anak didik dapat diketahui dari penerimaan peserta didik baru dalam melanjutkan studi pendidikannya, sebagaimana antusiasmenya yang sangat besar.

“Untuk saat ini, antusias peserta didik baru yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sudah berkurang. Kita menyadari, aspek dari pembelajaran via daring memiliki dampak baik dan tidak baik,” jelasnya.

Syaiful menyatakan, siswa saat ini harus mengikuti keadaan dalam mengikuti pendidikan via daring, yakni harus didukung dengan fasilitas gadget yang mumpuni. Situasi seperti saat ini yang dapat mengakibatkan minat siswa dalam dunia pendidikan menurun.

“Ada masyarakat yang secara ekonominya mampu bisa memberikan fasilitas yang dapat mendukung anaknya dalam melakukan pembelajaran via daring. Namun sebaliknya, masih ada juga anak didik yang belum memiliki gadget untuk mereka belajar,” tegasnya.

Syaiful mengimbau kepada guru, untuk aktif mendatangi anak yang tidak memiliki fasilitas lengkap dalam mengikuti pembelajaran via daring.

“Saat ini kan kita kenal istilah pembelajaran via daring dan luring. Namun, ada istilah lain, yakni guling atau guru keliling, guru aktif menjangkau siswanya yang tidak memiliki fasilitas lengkap. Tujuannya, anak didik sama-sama bisa mendapat pembelajaraan yang sama,” terangnya.

Terpisah, Linda Ang, salah satu wali siswa mengatakan, pemberlakuan pembelajaran via daring mengakibatkan dampak terhadap pengeluaran di dalam keluarga makin bertambah.

“Biasanya untuk biaya kuota tidak begitu besar selama pendidikan tatap muka. Namun untuk saat ini, biaya untuk membeli kuota internet makin bertambah,” ucapnya.

Linda menambahkan, sistem pembelajaran via daring masih efektif, walaupun memiliki dampak yang cukup besar. Namun, dalam menjaga keselamatan dan kesehatan siswa sangat efektif dengan penerapan sistem pembelajaran via daring.

Lihat juga...