SPKS : Capai Kemandirian, Petani Sawit Harus Berkonsolidasi Melalui Koperasi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Untuk mencapai kemandirian, petani sawit harus berkonsolidasi melalui koperasi. Pemerintah juga diharapkan memberi dukungan terhadap koperasi ini untuk menjadi badan usaha tumpuan para petani dalam pengelolaan secara nasional.

Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Mansuetus Darto mengatakan, koperasi petani  hingga saat ini belum berkembang, padahal usia industri sawit Indonesia sudah 110 tahun.

“Tanpa adanya perhatian pemerintah, ya dampaknya petani tidak terkoneksi dengan industri pengolahan,” ujar Darto, pada diskusi virtual yang diikuti Cendana News, Senin (5/7/2021).

Bahkan tambah dia, para petani sawit swadaya ini tetap menjual hasil panennya kepada tengkulak hingga mengalami kerugian.

“Mereka jual pada tengkulak, dan mengalami kerugian sekitar 30 persen dari harga yang seharusnya,” tukasnya.

Ia berharap kondisi ini menjadi evaluasi pemerintah. Apalagi menurutnya, tidak ada roadmap sawit nasional secara jelas ditetapkan pemerintah, untuk menjadi panduan para petani. Termasuk koperasi petani sawit dalam upaya membangun sawit nasional. Sehingga akibatnya, tidak ada ekosistem yang saling mendukung perusahaan swasta.

“Tidak ada kemitraan dengan koperasi-koperasi petani sawit.Contohnya, program industri biodiesel sawit belum melibatkan petani sebagai penyuplai bahan baku melalui kemitraan perusahan dan petani sawit swadaya,” urainya.

Maka itu, kata dia, SPKS mendorong pemerintah membangun industri kelapa sawit nasional berbasis gotong royong. Yang tentu bertumpu pada pemberdayaan petani sawit rakyat melalui koperasi.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Teten Masduki mengatakan, komoditas sawit memiliki peran penting dalam perekonomian perkebunan dan pertanian Indonesia.

Dalam bidang ekspor kata Teten, tercatat tahun 2020, ekspor komoditas sawit mencapai US$ 22,97 miliar atau setara dengan Rp 321,5 triliun. Angka ini terus naik 13,6 persen dibandingkan tahun 2019.

Untuk lebih meningkatkan ekspor komoditas ini, tentu kata Teten, para petani sawit harus terkonsolidasi melalui koperasi. “Jadi bukan perorangan lagi, yang terkonsolidasi juga bukan hanya petaninya, tapi juga lahannya,” ujar Teten, dalam acara yang sama.

“Dengan terjalinnya kemitraan yang baik. Indikatornya, yakni terfasilitasinya koperasi masuk ke dalam rantai nilai global. Sehingga koperasi sawit terhubung dengan pembeli dan market,” ujar Teten.

Lebih lanjut dijelaskan, terdapat bisnis model komoditi kelapa sawit yang dapat dilakukan agar memiliki nilai tambah.

Dengan melakukan desain industri kelapa sawit untuk menentukan kapasitas produksi. Juga menentukan luas lahan yang dibutuhkan dan nilai investasi.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Teten masduki, saat memaparkan konsolidasi koperasi petani pada diskusi virtual tentang langkah strategis koperasi petani di Jakarta yang diikuti Cendana News, Senin (5/7/2021). foto: Sri Sugiarti.

Menurutnya, salah satu strategi penting dalam membangun koperasi berbasis petani sawit di era pandemi Covid-19 yakni kemitraan. Kemitraan strategis antara perusahaan besar dengan UKM dan koperasi sawit dengan prinsip saling menguntungkan dalam upaya meningkatkan daya saing.

“Dengan kemitraan ini bisa membantu koperasi sawit dapat masuk dalam global value chain, sehingga akan meningkatkan peluang koperasi petani untuk naik ke kelas,” pungkasnya.

Lihat juga...