Tadej Pogacar Bakal Diterpa Kembali Isu Doping

Pebalap Team UAE Emirates asal Slovenia, Tadej Pogacar, yang masih mengenakan jersey kuning sebagai pemimpin klasemen umum, saat membalap pada etape ke-13 Tour de France yang menempuh jarak 219 km dari Nimes ke Carcassonne pada 9 Juli 2021 - Foto Ant
JAKARTA – Dalam Tour de France, kecurigaan doping akan kembali menyeruak seperti tahun lalu, jika pemuncak klasemen umum, Tadej Pogacar, dapat mempertahankan gelar juara Tour di akhir pekan ini.

Pebalap sepeda berusia 22 tahun itu menumbangkan sesama pebalap sepeda dari Slovenia, Primoz Roglic, di etape terakhir time trial tahun lalu, untuk menjuarai Tour de France dalam debutnya. Kini, dia memimpin sejak awal lomba, dengan membangun keunggulan besar atas para pesaingnya. Dia tampil dominan dalam etape time trial dan penampilan mengesankan dalam etape tanjakan.

Dia mengungguli pebalap sepeda Kolombia, Rigoberto Uran, dengan selisih waktu lima menit 18 detik, sedangkan pebalap sepeda Denmark, Jonas Vingegaard, menduduki tempat ketiga dengan terpaut 14 detik lebih lambat. “(Isu doping) ini adalah pertanyaan yang tidak menyamankan, karena sejarah buruk (dalam cabang olahraga ini). Dan saya memahami pertanyaan itu,” kata Pogacar, di hari istirahat kedua balapan, Selasa (13/7/2021).

“Saya sama sekali tak mempersiapkan menghadapi pertanyaan semacam itu. Saya hanya senang mengayuh sepeda saya dan apa pun yang menyertainya, saya akan menghadapinya. Saya anak baik dengan pendidikan yang baik, saya bukan orang yang mengambil jalan pintas,” tandasnya.

Namun demikian, Pogacar akan kembali menghadapi pertanyaan tersebut, karena dia membalap bersama tim UEA, yang CEO-nya, Mauro Gianetti, dan manajer tim, Matxin Fernandez, adalah direktur olahraga di Saunier-Duval, ketika seluruh tim ini meninggalkan Tour de France 2008 setelah pebalap Italia, Riccardo Ricco, tak lolos dalam tes doping.

Dengan tiga lagi etape pegunungan di Pyrenees Prancis dan etape time-trial menjadi pembeda di antara seluruh peserta, Pogacar berada dalam posisi mengendalikan. “Dia membalap seolah kami itu tidak ada,” kata pebalap sepeda Spanyol, Enric Mas, yang menduduki urutan kedelapan dalam klasemen umum.

Sejak 2000, tak ada pemimpin klasemen umum yang unggul lebih dari dua menit selama memasuki pekan terakhir yang kehilangan posisi teratasnya. Kecuali di 2007, ketika pebalap sepeda Denmark, Michael Rasmussen memimpin. Selisih keunggulan Pogacar adalah yang terbesar sejak 2000, ketika Lance Armstrong, yang saat itu kehilangan tujuh gelarnya karena doping, unggul 7 menit 26 detik atas pebalap sepeda Jerman, Jan Ullrich.

Dia telah mengidentifikasi satu etape yang bisa menggagalkannya. “Yang tersulit adalah etape 17. Tapi bahkan esok (etape 16) apa pun bisa terjadi, karena apa pun bisa terjadi, begitu juga (etape 18) Luz Ardiden. Jika Anda menghadapi hari yang buruk, apa pun bisa terjadi,” kata dia.

Etape 17 pada Rabu (14/7/2021) adalah trek sepanjang 178,4 km, yang berakhir pada ketinggian 2.215 meter di ujung Col du Portet. Salah satu tanjakan tersulit dalam Tour de France dengan 16 km di antaranya memiliki kemiringan rata-rata 8,7 persen. Meskipun begitu, berdasarkan performanya, etape itu malah membuat Pogacar bisa sedikit mengungguli pesaingnya. (Ant)

Lihat juga...