Target Restorasi Hutan Butuh Keterlibatan Semua Pihak

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Target restorasi hutan secara khusus atau memperbaiki alam dalam skala yang lebih luas, tidak akan dapat tercapai jika makna restorasi itu tidak dipahami oleh masyarakat dan pemangku kepentingan.

Tak dapat dipungkiri, upaya restorasi hanyalah bisa dicapai jika semua elemen negeri ini dapat bersama mempraktikkan langkah pengembalian makna dan fungsi hutan.

Peneliti Pusat Kajian Tumbuhan Tropika, Universitas Nasional Jakarta, Prof. Dr. Dedy Darnaedi, MSc, menyatakan makna restorasi belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat dan pemangku kepentingan.

“Contoh saja, Reboisasi itu bukan hanya menanam. Sementara yang dipahami sekarang, gerakan reboisasi itu hanyalah menanam pohon. Padahal Reboisasi itu adalah penanaman jenis pohon hutan untuk mengembalikan fungsi hutan. Jadi harus tanam, siram dan rawat dengan kasih sayang. Dan bukan hanya satu bagian masyarakat tapi seluruh elemen di Indonesia secara bersama, harus memahami paradigma restorasi dan pentingnya mengembalikan fungsi hutan,” kata Dedy dalam acara online kehutanan, Rabu (14/7/2021).

Ia menyatakan, mengembalikan keberadaan tanaman tak cukup hanya dilakukan dengan penanaman saja. Tapi harus diikuti dengan perawatan tanaman tersebut.

“Kalau cuma ditanam terus dibiarkan, ya gak ada itu namanya hutan baru. Dan ingat, kita menanam itu bukan orientasi setahun atau dua tahun. Tapi untuk investasi jangka panjang. Puluhan tahun, untuk memperbaiki apa yang sudah kita rusak saat ini,” tuturnya.

Jika reboisasi ini bisa dipahami, baru bisa kita melangkah ke arah restorasi yang dicanangkan oleh dunia, bukan hanya Indonesia.

“Restorasi ini mengembalikan kondisi hutan alam seperti sediakala. Bukan hanya membuatnya hijau. Tapi fungsi dan nilai hutan itu bisa kembali. Artinya, kita mampu untuk mempertahankan keterwakilan jenis melalui pemeliharaan, penanaman, pengayaan dan pengendalian,” tuturnya lebih lanjut.

Dedy menyebutkan Indonesia termasuk negara yang diwajibkan melakukan restorasi ekosistem hingga 30 persen.

“Kenapa ini penting, karena penyerap karbon terbanyak itu ada pada hutan tropika dan sub tropika daun lebar, mangrove serta hutan tropika dan sub tropika berdaun jarum. Dan ini lah hutan Indonesia. Contohnya, Kalimantan itu masuk ke hutan tropika berdaun lebar,” urainya.

Ia menekankan bahwa dalam program Decade on Ecosystem Restoration 2021-2030, yang dilakukan bukan hanya melindungi.

“Tapi memulihkan mulai sekarang juga. Bukan hanya menanam tapi melakukan reboisasi, reklamasi, revegetasi, reintroduksi dan pengendalian Invasive Alien Species (IAS) untuk mencapai restorasi ekosistem yang menjadi target global,” tandasnya.

Pakar Biodiversitas Barita O Manullang menyatakan gerakan menjaga lingkungan alam dan merestorasi hutan tidak bisa hanya dilakukan oleh ahli atau peneliti atau akademisi saja.

“Kita harus bersama, semuanya. Ya komunitas, ya pemerintah, ya masyarakat harus satu suara. Jangan yang satu maunya apa, yang satu mengertinya beda,” kata Barita dalam kesempatan yang sama.

Edukasi dan sosialisasi terkait menjaga dan memperbaiki lingkungan ini harus terus digaungkan ke masyarakat.

“Apalagi jika ada pihak asing yang terlibat. Gaungnya akan lebih terdengar oleh para pemegang keputusan. Apalagi jika para ahli konservasi memiliki hubungan baik dengan pihak pemegang keputusan dan bisa satu suara dalam melakukan konservasi alam,” pungkasnya.

Lihat juga...