Tempat Ibadah Ditutup Selama PPKM Darurat

Tangkapan layar Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat menyampaikan hasil rapat pembatasan pergerakan masyarakat selama PPKM Darurat, Jumat (2/7/2021) -Ant

JAKARTA – Kementerian Agama akan mengatur pembatasan-pembatasan kegiatan keagamaan saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada 3-20 Juli 2021 di Jawa-Bali, antara lain menutup sementara tempat ibadah seperti masjid, gereja, wihara, klenteng dan pura.

“Kementerian Agama juga sudah menyiapkan peraturan peniadaan peribadatan di tempat-tempat ibadah di luar agama Islam, seperti di pura, wihara, kelenteng dan sebagainya,” ujar Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, usai rapat bersama kementerian yang dipantau dari Jakarta, Jumat (3/7/2021).

Yaqut mengatakan, Kementerian Agama akan mengeluarkan surat edaran yang mengatur pelaksanaan ibadah saat PPKM Darurat, sekaligus menjadi penguat dari edaran sebelumnya.

Sebelumnya, Kemenag telah mengeluarkan surat edaran pelaksanaan Iduladha dan kurban. Namun dalam surat edaran itu, salah satunya hanya mengatur pelaksanaan Salat Iduladha berjemaah ditiadakan di lapangan atau masjid/mushala yang berada di zona merah dan oranye.

Kini, Kemenag menyebut salat Id berjemaah di wilayah PPKM Darurat ditiadakan dan diimbau digelar di rumah masing-masing. Begitu pula dengan kegiatan keagamaan lainnya di tempat ibadah ditiadakan sementara.

“Inti dari hasil rapat yang nanti akan kita turunkan menjadi Surat Edaran Menteri Agama yang akan kita sebarkan secara luas,” ujarnya.

Tak hanya peniadaan kegiatan keagamaan di tempat ibadah, Kemenag juga akan mengatur soal takbiran. Yaqut mengatakan, takbir keliling di zona PPKM Darurat dilarang, begitu pula takbiran di masjid ditiadakan.

“Jadi, takbiran di rumah saja,” kata dia.

Sementara saat kurban, penyembelihan harus di tempat terbuka, dibatasi, dan yang boleh menyaksikan hanya orang yang berkurban saja agar menghindari kerumunan.

Kemudian saat proses pembagian daging kurban, diberikan langsung oleh panitia kepada yang berhak ke rumahnya masing-masing.

“Kemudian daging kurban yang biasanya pembagiannya sering kali mengundang kerumunan dengan membagi kupon, kita akan coba atur pembagian hewan kurban itu harus diserahkan langsung kepada yang berhak ke rumah masing-masing,” katanya. (Ant)

Lihat juga...