Tetap Narik, Meski Pendapatan Hanya untuk Kuda

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BANDUNG — Diam di rumah tidak pernah menjadi pilihan bagi para kusir keretek atau delman di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Meski pendapatan mereka sangat minim, akibat adanya kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat, namun mereka merasa tetap harus bekerja.

“Tinggal di rumah tidak mungkin, karena banyak yang harus dikasih makan, anak-istri dan kuda. Ya walaupun narik juga lebih sering pendapatannya cuma buat beli makanan kuda,” ujar Andi Ruswandi kepada Cendana News, Selasa (20/7/2021) di Alun-alun Ciparay.

Selama pandemi, khususnya pada masa PPKM Darurat, Andi mengaku belum pernah sekalipun mendapatkan penghasilan sampai Rp100 ribu dalam sehari, seperti yang biasanya ia dapatkan sebelum adanya wabah Covid-19.

“Sekarang bisa dapat Rp50 ribu sehari aja sudah bagus. Tapi rata-rata sehari paling dapatnya cuma Rp35 ribu. Itu pun dipotong buat beli makanan kuda Rp20 ribu. Jadi cuma sisa Rp15 ribu untuk dapur,” ungkap Andi.

Menurut Andi, operasional delman dibagi menjadi dua shift, pagi (06.00-13.00 Wib) dan sore (13.00-18.30 Wib). Pada setiap shift nya, dibatasi maksimal 30 delman yang boleh beroperasi.

“Di pangkalan juga kan kita harus ngantri dulu, keretek paling depan itu baru berangkat kalau sudah penuh, dan bisa nunggu setengah jam delmannya baru penuh. Jadi satu shift paling banyak kita cuma kebagian tiga kali tarikan,” papar Andi.

Andi Ruswandi, salah seorang kusir delman atau keretek yang sehari-hari mangkal di Alun-alun Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto Amar Faizal Haidar

Hal serupa juga diutarakan Odang, kusir delman lainnya yang mangkal di Alun-alun Ciparay. Menurutnya, walaupun pendapatan sedikit, namun itu jauh lebih baik dibanding berdiam diri di rumah.

“Kita kan keahliannya cuma narik keretek, tidak punya pekerjaan lain. Ya kalau kata orang Sunda ‘wayahna’ (mau tidak mau) harus narik, daripada tidak makan,” cetus Odang.

Ia pun menyebut, mustahil menerapkan protokol kesehatan jaga jarak di keretek, pasalnya kapasitas muatannya yang sedikit.

“Maksimal penumpang itu enam, kalau harus jaga jarak kan berarti cuma tiga, mustahil. Paling kita cuma wajibkan penumpang pakai masker, biar sama-sama menjaga agar tidak kena virus corona,” pungkas Odang.

Lihat juga...