Tumpukan Sampah di Pintu Air CBL Masih Terus Terjadi

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Persoalan sampah di pintu air Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL), tepatnya di Desa Sukajaya, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, belum selesai. Meski kerap dibersihkan, sampah kembali menumpuk dan terus berulang.

Hal tersebut membuat UPTD Lingkungan Hidup Kebersihan Wilayah Sungai kembali menurunkan tim di Pintu Air CBL untuk mengangkut sampah secara manual. Hanya  itu yang bisa dilakukan untuk menjaga pintu air CBL tidak tertutup sampah dan tetap mengalir ke wilayah Sukatani tidak terhambat oleh tumpukan sampah.

“Kita sudah turunkan petugas UPTD LH Bidang Sungai untuk membersihkan pintu air CBL. Tapi dengan cara manual sampah dijaring kemudian diangkut ke darat untuk di letakkan ke dalam mobil sampah untuk diteruskan ke TPA,” ungkap Hadi UPTD LH Bidang Kebersihan Sungai, kepada Cendana News, Rabu (14/7/2021).

Dikatakan saat ini pembersihan tumpukan sampah di pintu air kali CBL hanya dilakukan secara manual menggunakan jaring agar sampah tidak masuk ke pintu air. Nanti sampah yang telah menumpuk dijaring angkat menggunakan perahu perahu sampah ke darat untuk kemudian dibuang ke TPA.

Menurutnya hanya itu yang bisa dilakukan, dalam menjaga menjaga pintu air Kali CBL tetap bersih. Masih minimnya kesadaran agar tidak membuang sampah di Kali menjadi kendala utama.

“Sampah yang terjaring di pintu air CBL adalah sampah rumah tangga, streofoam, sampah bambu dan lainnya. Meski edukasi kerap dilakukan tapi sampah masih banyak menumpuk di pintu air kali CBL,” ujarnya bingung cara menyadarkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.

UPTD LH Bidang Kebersihan Sungai, Hadi (kiri) bersama pegiat lingkungan memantau kondisi sampah di pintu air CBL, Rabu (14/7/2021). -Foto M. Amin

Enjon, pegiat lingkungan di wilayah setempat, mengaku bahwa tim LH kewalahan dalam membersihkan sampah di pintu air Kali CBL secara manual. Sehingga ia bersama tim relawan peduli lingkungan ikut turun dibantu oleh puluhan petani.

“Hari ini, ada 30 puluhan petani dari wilayah Sukatani, yang mengkhawatirkan kondisi aliran air ke wilayah sawah mereka kering akibat tertutupnya pintu air CBL ke arah Sukatani. Sehingga mereka ikut turun membersihkan sampah secara manual,” tukasnya.

Tapi, jelasnya volume sampah yang datang dalam sehari lebih besar dari pada yang berhasil diangkut. Kondisi tersebut membuat hasilnya tidak maksimal karena pengangkutan sampah dengan cara manual membutuhkan tenaga ekstra dan waktu.

“Sampah dikeringkan dulu, dengan keranjang sebelum diangkat ke darat. Sehari bisa mengangkut paling dua Baktor. Tapi sampah yang datang dari atas sehari bisa tiga Baktor, artinya tidak seimbang yang diangkut sama sampah yang datang menumpuk,” tandasnya.

Kondisi tumpukan sampah di Pintu CBL, terus terjadi dan terus menerus jadi persoalan lanjutnya. Pintu Air CBL tersebut menjadi vital sebagai sumber air untuk pertanian di wilayah Sukatani.

“Harus ada kesadaran kolektif, dan bersama memiliki rasa tanggung jawab bersama terkait keberlangsungan lingkungan. Sehingga tidak seperti sekarang, satu sisi petugas melakukan pembersihan tapi pihak lain tidak peduli dan membuang sampah di kali,” pungkasnya.

Lihat juga...