29 Tahun Sugeng Sukses Jalankan Usaha Telur Asin

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Sempat gulung tikar akibat krisis moneter, tak menyurutkan langkah Sugeng Suryanto untuk kembali bangkit dan meneruskan usaha telur asin yang sudah dirintisnya sejak 1992. Pun pada saat kondisi pandemi seperti sekarang, berbagai inovasi produk ia ciptakan untuk mempertahankan usaha yang sudah berjalan selama 29 tahun tersebut.

Berawal dari keinginannya untuk memiliki usaha pribadi, Sugeng mencoba peluang usaha menjadi produsen telur asin. Dari yang awalnya hanya mampu memproduksi 50 butir telur asin per minggu, kini di rumahnya yang berlokasi di Gang 21 C, kelurahan Gadang, kecamatan Sukun, kota Malang, ia bisa memproduksi ribuan telur asin setiap minggunya.

“Dulu di awal usaha hanya bisa membuat 50 butir. Kemudian terus berkembang menjadi 200, 300 sampai dengan sekarang bisa memproduksi 4-6 ribu butir telur asin setiap minggu,” ujarnya saat ditemui di tempat produksi telur asin Salted Egg (SAE), Selasa (10/8/2021).

Dalam memproduksi telur asin, Sugeng, masih menggunakan cara tradisional yakni melumuri telur bebek dengan menggunakan batu bata yang sudah dihaluskan dan dicampur garam. Selanjutnya, telur bebek yang telah dilumuri serbuk batu bata dibiarkan selama 1-3 minggu.

“Disimpan 1 minggu itu sebenarnya sudah asin. Tapi kalau ingin lebih asin lagi rasanya, bisa disimpan selama 2 minggu dan kalau pengen lebih asin lagi bisa disimpan hingga 3 minggu,” sebutnya.

Diceritakan Sugeng, banyak suka duka yang dialaminya selama menjalankan usaha telur asin. Di awal usaha, untuk menjual telur asin buatannya, ia menitipkan ke toko-toko. Namun sayang tidak semua telur yang dititipkan laku terjual.

Karenanya, Sugeng kemudian berinisiatif untuk menjualnya sendiri di pasar. Dari sinilah telur asin buatan mulai dikenal. Tidak hanya menjual di satu pasar, Sugeng menjajakan telur asinnya di beberapa pasar sekaligus guna mendapatkan lebih banyak pelanggan.

“Alhamdulillah di pasar, penjual telur asin semakin lancar dan berkembang hingga sebelum masa krisis moneter,” akunya.

Namun sayangnya pada tahun 1998-1999, usaha telur asin Sugeng terpaksa harus gulung tikar akibat terdampak krisis moneter yang terjadi pada saat itu. Menurutnya, akibat krisis moneter menyebabkan harga telur asin naik tiga kali lipat, dari awalnya hanya 240 rupiah per butir, naik menjadi 750 rupiah per butir.

Beruntung, setelah hampir satu tahun gulung tikar, Sugeng mampu bangkit dan memulai usahanya lagi dari nol. Bahkan di tahun 2004, ia sukses mengembangkan produk makanan turunan dari telur asin berupa botok telur asin.

“Saat kondisi daya beli masyarakat mulai meningkat dan ekonomi sudah agak stabil pada saat itu, saya putuskan untuk kembali melanjutkan usaha telur asin dan mengembangkannya ke produk makanan berupa botok telur asin,” urainya.

Tidak sampai di situ, setelah berhasil bangkit, usaha telur asin milik Sugeng kembali harus mengalami cobaan ketika harus dihadapkan pada kondisi pandemi covid-19. Kondisi ini sempat membuat Sugeng kebingungan untuk memasarkan ribuan telur asin yang sudah ia siapkan untuk dijual.

“Pada awal-awal pandemi, usaha ini sempat berhenti total sehingga membuat kami kebingungan telur yang jumlahnya sekian ribu ini mau diapakan. Karena kalau tidak segera diambil dari proses pengasinan, rasanya akan semakin asin dan bisa jadi rusak. Padahal pada saat itu ada sekitar 20 ribu butir telur yang sudah siap untuk dijual,” akunya.

Untuk menyelamatkan telur-telurnya tersebut, Sugeng kemudian memecahkan semua telurnya dan hanya mengambil kuning telurnya saja untuk disimpan dalam freezer.

Kuning telur asin, salah satu produk turunan dari telur asin buatan Sugeng, Selasa (10/8/2021). Foto: Agus Nurchaliq

Harapannya kalau memang tidak laku dijual akan ia buat untuk bahan botok telur asin.

Di luar dugaan, ternyata kuning telur asin justru banyak dibutuhkan oleh resto, rumah makan untuk dijadikan olahan makanan.

“Jadi kuning telur asin yang rencana awalnya akan dibuat botok, akhirnya saya jual kuning telurnya saja. Sedangkan putih telur asin bisa dimanfaatkan untuk pakan ikan,” ungkapnya.

Sementara itu Yazid Lutfi, menantu Sugeng yang turut mengembangkan usaha tersebut, menyebutkan, untuk telur asin dijual dengan harga Rp 2.500-3.000 per butir tergantung ukuran. Sedangkan untuk paket kuning telur dijual seharga Rp 56.000 isi 20 butir.

Menurutnya, meskipun produksinya belum bisa maksimal seperti dulu, paling tidak di tengah masa pandemi seperti sekarang, telur asin SAE masih bisa bertahan.

“Selain memenuhi kebutuhan pasar di Malang, produk telur asin dan kuning telur kami kerap mendapatkan pesanan dari luar kota bahkan luar pulau,” tandasnya.

Lihat juga...