35 UMKM Mitra Binaan BI Maluku Terdampak Pandemi

AMBON  – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku mencatat 35 usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mitra binaan di daerah tersebut terkena dampak ekonomi dari pandemi COVID-19.

“Di Maluku ada sekitar 76 UMKM mitra dan binaan BI Maluku, dan 35 UMKM terkena dampak COVID-19. Dampaknya berupa turunnya permintaan, karena memang kondisi COVID-19 ini masyarakat agak sulit keluar rumah,” kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Lukman Hakim di Ambon, Selasa.

Ia menjelaskan, 500 UMKM mitra binaan BI di seluruh Indonesia terkena dampak pandemi dan jumlah tersebut mencapai sekitar 67 persen dari total 799 UMKM mitra binaan.

Dampak pandemi yang menimpa UMKM beragam, di antaranya s kesulitan bahan baku, permintaan turun, serta distribusi terganggu karena banyak penerbangan yang tutup sehingga mengganggu kegiatan usaha.

Menurut dia, selama ini UMKM di Maluku masih mengandalkan penjualan secara langsung (offline) sehingga terkena dampak karena penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). UMKM yang terkena dampak rata-rata bergerak di bidang usaha produksi makanan dan kerajinan.

“Karena memang pariwisata juga banyak yang tutup, maksudnya tempat-tempat wisata, jadi wisatawan tidak ada yang datang sehingga cukup terasa para pelaku usaha yang bergerak di kerajinan terutama di tempat-tempat wisata,” ujarnya.

Ia mengatakan perhatian dari BI selama pandemi COVID-19 sudah cukup banyak untuk mendorong agar UMKM yang terdampak COVID-19 ini bisa pulih kembali. Bantuan berupa pelatihan untuk UMKM berusaha membantu pembenahan baik dari sisi hulu produksi, sumber daya manusia (SDM), hingga bagian hilir, dan pemasaran produk.

“Kalau dari sisi SDM kami memberikan semacam pelatihan untuk UMKM agar bisa punya inisiatif, punya ide, bagaimana mereka bisa menukar, jadi kalau selama ini dia usaha di bidang kerajinan yang menyuplai tempat-tempat wisata karena permintaan turun jauh, bagaimana bisa beralih ke produk-produk yang lain misalnya ke produk makanan, sehingga dia bisa tetap berkembang,” ujarnya.

Kemudian dari sisi pemasaran BI Maluku juga membantu UMKM agar bisa lakukan penjualan lewat “oneline“, jadi bisa kerja sama dengan lokapasar (marketplace) seperti Tokopedia atau di lokal ada Pigi Pasar dan Ambon Akses, sehingga UMKM itu bisa berjualan secara dengan cakupan jangkauan pemasaran itu yang lebih baik lagi.

“Misalnya mungkin yang biasanya hanya berjualan di level kecamatan nantinya dengan adanya ‘oneline‘ bisa meluas antarkecamatan di kabupaten, atau bisa antarprovinsi,” katanya. (Ant)

Lihat juga...