Air Bersih Jadi Kendala Warga di Hewokloang

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Air bersih menjadi kendala dalam penanganan stunting dan masalah kesehatan warga di Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk kebutuhan sehari-hari, warga hanya mengandalkan air hujan yang ditampung di bak penampung.

Kepala Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, NTT, Silvester Moa saat ditemui di Desa Geliting, Senin (23/8/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Soal kekurangan air bersih memang benar, karena di kecamatan kami air bersih memang menjadi kendala,” sebut Kepala Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, NTT, Silvester Moa saat dihubungi, Selasa (24/8/2021).

Silvester mengatakan, hampir setiap rumah warga terdapat Bak Penampung Air Hujan (PAH) dengan tinggi yang mencapai hingga lima meter dengan diameter dua meter.

Ia sebutkan, air hujan dikonsumsi setiap hari, baik untuk memasak, mandi bahkan mencuci, karena tidak ada jaringan air bersih di kecamatannya.

Lanjutnya, warga terkadang membeli air bersih dari mobil tanki seharga Rp250 ribu hingga Rp400 ribu per tanki ukuran 5 ribu liter, tergantung jauhnya jarak rumah.

“Pernah kami melakukan survey di mata air yang ada di tempat kami dengan debit yang besar. Kendalanya mata air berada di lembah sehingga perlu dipompa agar bisa naik ke permukaan dan butuh biaya besar,” ungkapnya.

Kepala Desa Wolomapa, Marinus Moa menambahkan, di Desa Baomekot dan Wolomapa ada sumber mata air dan sudah diadakan survey tapi sampai saat ini belum ada tindak lanjut.

Marinus mengakui, dalam survey tersebut diketahui debit airnya sangat besar namun biaya untuk memompa air dari lembah hingga bisa dialirkan ke rumah warga totalnya sekitar Rp4 miliar.

“Kami sudah sampaikan melalui Musrembang di kecamatan, tapi belum ada realisasi. Saat ini mungkin sedang dalam pandemi Covid-19 jadi anggarannya dipangkas,” ucapnya.

Marinus mengharapkan agar kedepannya Pemerintah Kabupaten Sikka bisa menganggarkan untuk jaringan air minum bersih ini bagi warga di Kecamatan Hewokloang.

Marinus mengakui pemerintah desa pun hanya bisa menganggarkan dana untuk pembangunan bak PAH untuk menampung air hujan dan juga air yang dibeli dari mobil tanki.

“Sebagian besar masyarakat di Kecamatan Hewokloang berpenghasilan sebagai petani dengan komoditi perkebunan seperti kakao, vanili dan cengkeh. Sebagian besar pendapatan habis hanya untuk membeli air bersih,” ucapnya.

Lihat juga...