Bappenas : Masyarakat Indonesia Masih Belum Miliki Kesadaran Memilah Sampah

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Sampah masih menjadi permasalahan pelik yang tidak berujung di Indonesia. Menurut, Direktur Lingkungan Hidup pada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Medrilzam, salah satu penyebabnya, karena masyarakat belum memiliki kesadaran akan pentingnya mengelola dan memilah sampah sejak dari rumah.

“Sejak saya kecil, ajakan dan gerakan memilah sampah itu sudah ada, tapi kelihatannya sampai sekarang tidak ada perubahan. Memang masyarakat kita ini sangat sulit diajak memilah sampah dan mengelolanya secara baik,” ungkap Medrilzam dalam webinar bertajuk Darurat Limbah Medis, yang diikuti Cendana News, Rabu (25/8/2021).

Medrilzam mengatakan, sebagian besar masyarakat menganggap bahwa sampah yang diproduksinya, bukanlah tanggungjawabnya, melainkan tanggungjawab petugas kebersihan, pemerintah dan sebagainya.

“Padahal kita seharusnya kita yang memproduksi sampah baik medis maupun domestik memiliki tanggungjawab yang sama. Sampah adalah masalah bersama. Tidak bisa kita biarkan satu pihak saja yang yang memikul beban pengelolaanya,” papar Medrilzam.

Meski demikian sulitnya, Medrilzam mengaku tidak akan berhenti untuk terus mendengungkan ajakan untuk memilah dan mengolah sampah sejak di hulu atau di rumah tangga.

“Saya tidak tahu kita butuh berapa generasi lagi untuk membuat pengelolaan sampah di hulu menjadi baik, saat ini mindset kita masih kumpul, angkut buat. Tapi kita tidak boleh menyerah, harus kita dorong terus pengelolaan sampah yang baik, sehingga pengelolaan sampah di hilir juga semakin mudah,” papar Medrilzam.

Di forum yang sama, Tasya Kamila, Pegiat Lingkungan Hidup juga menyoroti masalah limbah medis yang di masa pandemi semakin besar. Tasya meyakini, dengan pengelolaan limbah medis yang baik, akan membantu masyarakat keluar dari situasi sulit.

“Aku kan sebetulnya sudah mulai mengelola sampah di rumah. Dipilah-pilah, sampah non-organik dan disalurkan ke bank sampah, sementara yang organik sedikit banyak dikomposing. Jadi secara pribadi sudah mengurangi pengiriman sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA),” kata Tasya.

“Masalahnya sekarang aku bingung bagaimana menyikapi limbah medis yang aku produsksi. Sempat baca gimana mengelolanya secara baik dan bertanggungjawab, yaitu dengan menyemprotkan disinfektan, lalu digunting, tapi tetap saja bimbang karena limbah medis harus berakhir ke TPA,” sambungnya.

Tasya sendiri berharap pengelolaan sampah medis di TPA bisa dilakukan secara khusus, sehingga sebagai penghasil dan pembuang, masyarakat bisa merasa lebih aman.

“Intinya sama-sama bertanggungjawab atas sampah, khususnya yang limbah medis. Kita masyarakat pengguna sebisa mungkin mengelola sampah yang baik, begitupun petugas di TPA agar kedepan sampah bukan lagi masalah serius di negeri ini,” pungkas Tasya.

Lihat juga...