Belasan Kecamatan di Sulsel Terdampak Luapan Danau Tempe

Suasana dampak banjir di pemukiman penduduk akibat meluapnya Danau Tempe, di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Sabtu (28/8/2021) - foto Ant
MAKASSAR – Curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang terjadi selama dua hari terakhir di Kabupaten Wajo dan Bone, Sulawesi Selatanm, memicu debit air Danau Tempe meningkat hingga meluap . Dampaknya, belasan kecamatan di dua kabupaten tersebut terendam banjir.
Puluhan rumah dan ribuan hektare sawah ikut terendam air luapan Danau Tempe. “Data sementara ada delapan kecamatan yang terdampak banjir di Wajo, puluhan rumah dan ribuan sawah masih terendam banjir,”ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wajo, Andi Muslihin, saat dikonfimasi, Sabtu (28/8/2021).

Data yang masuk menyebut, delapan kecamatan terdampak adalah, Kecamatan Tempe, Kecamatan Pammana, Kecamatan Majauleng, Kecamatan Keera, Kecamatan Gilireng, Kecamatan Maniangpajo, Kecamatan Sabangparu dan Kecamatan Pitumpanua. Selain itu, banjir juga meluap ke sejumlah jalan trans provinsi di wilayah Tarumpakkae, Desa Liu, Kecamatan Majauleng.

Banjir juga menggenangi Kota Sengkang, Wajo. Air meluber ke pemukiman warga di Jalan Lembua, Jalan Andi Mangga, Jalan Dahlia, Jalan Bau Baharuddin serta sekitar pasar Sentral Sengkang. Tim BPBD Wajo,  untuk masih melakukan assesment dan pendataan, sekaligus mengevakuasi serta membantu warga yang terdampak. “Tim sedang mendata warga dan kami fokus menyiapkan persiapan evakuasi bagi warga terdampak di sana,” katanya.

Kepala BPBD Kabupaten Bone, Dray Vibrianto menyebut, wilayah administrasi Bone juga berhubungan dengan daerah Danau Tempe. Tercatat sejumlah kecamatan terdampak banjir, saat air danau tersebut meluap. Wilayah tersebut adalah, Kecamatan Cina dan Sibulue, serta perbatasan Cenarana. Sedangkan di wilayah bagian utara Bone, banjir meluap di Kelurahan Pompanua, Kecamatan Anjangale dan merendam sebagian pemukiman warga. Lokasi ini berada di kawasan hulu aliran sungai setempat.

Air juga merendam fasilitas umum warga dan menggenangi puluhan hektare sawah, yang akan memasuki masa panen raya pada bulan depan. “Rencana mau panen padi sebagian wilayah yang terendam di sana. Kami sementara mendata dan belum mentotal kerugian materil. Semoga tidak ada korban jiwa pada kejadian ini,” paparnya.

Sejauh ini. BPBD Bone terus berkoordinasi dengan lintas sektor terkait, seperti Basarnas, dan lembaga kemanusiaan lainnya. Sebab perlu sinergitas untuk mendapatkan data akurat berapa banyak warga terdampak. Walaupun debit air mulai surut, dan hujan masih turun dengan intesitas ringan, BPBD tetap memantau dan melaporkan perkembangan kekinian atas kejadian banjir tersebut. (Ant)

Lihat juga...