Berbagai Strategi Pedagang di Bandar Lampung Atasi Dampak PPKM

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah pedagang yang membuka lapak di kawasan fasilitas publik seperti Taman Gajah dan lapangan Saburai yang dikelola Pemerintah Kota Bandar Lampung, sebagian harus tutup sebagai dampak PPKM level 4. Mereka pun melakukan berbagai cara dan strategi, agar tetap bisa mendapatkan penghasilan.

Rudiansah, pemilik usaha kuliner cuanki atau bakso ikan khas Bandung di Taman Gajah, mengaku sepekan tidak berjualan di lokasi itu. Ia pun memilih strategi berjualan keliling ke sejumlah permukiman, titik yang dilintasi warga.

Warga asal Tanjung Karang Barat itu mengaku sejumlah akses jalan di kota Bandar Lampung disekat dengan kawat berduri. Sebelumnya, hanya water barrier yang bisa dilewati.

Meski tetap bisa memilih akses jalan lain, Rudiansah mengaku tidak maksimal berjualan. Pedagang tradisional itu tetap menjajakan makanan berbahan ikan, dilakukan agar mendapat keuntungan. Kerap berjualan di sejumlah lokasi dekat sekolah sudah setahun lebih tidak bisa dilakukan. Meski demikian, ia mulai mencoba bertransformasi memakai pembayaran digital.

“Saat ini saya mau tak mau ikut perkembangan zaman, meski penjual kuliner tradisional, dengan cara memasang kode batang pada kaca di gerobak, bekerja sama dengan penyedia dompet digital yang memudahkan proses pembayaran dengan tanpa menyediakan kembalian atau uang receh,” terang Rudiansah, saat ditemui Cendana News, Sabtu (21/8/2021).

Pembayaran memakai uang digital berbasis quick response code Indonesian standard dan take away diterapkan Zubaidi di Jalan Airan Raya, Jatimulyo, Lampung Selatan untuk usaha singkong keju, Sabtu (21/8/2021). -Foto: Henk Widi

Rudiansah bilang, ia juga melayani pembelian dengan cara dikemas memakai plastik. Pilihan itu dilakukan olehnya karena area Taman Gajah sementara dilarang untuk kegiatan berpotensi menimbulkan kerumunan. Secara langsung, ia menyebut dampak bagi usaha kuliner penghasilan berkurang imbas pelanggan berkurang.

Namun, susanti, pedagang kuliner minuman kekinian, boba, di dekat lapangan Saburai, Jalan Sriwijaya, mengaku masih bernapas lega. Pasalnya, ia menerapkan penjualan dengan sistem take away (kemasan) memakai gelas. Gerobak yang memiliki roda bisa dipindah ke lokasi lain, sehingga ia tidak hanya terfokus pada satu tempat. Cara itu dilakukan agar bisa mendapatkan pelanggan yang ingin menikmati minuman buatannya.

Lihat juga...