BMKG Tunggul Wulung Cilacap Ingatkan Potensi Gelombang Tinggi hingga 6 Meter

Editor: Koko Triarko

CILACAP – Meskipun sudah memasuki musim kemarau, namun potensi hujan diperkirakan masih terjadi pada beberapa hari ke depan. Angin kencang juga masih terjadi dan berpotensi menimbulkan gelombang tinggi hingga kisaran  4- 6 meter di perairan pantai selatan.

Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Rendi Krisnawan, mengatakan saat ini masih terjadi sea surface temperature (SST) di laut selatan Jawa. Hal tersebut berpotensi menyebabkan penguapan, sehingga menimbulkan awan hujan di sekitar Cilacap serta gelombang tinggi.

“Potensi gelombang tinggi ini lebih kuat, karena adanya angin timuran yang cukup kuat. Gelombang yang tinggi berpotensi 4,0 meter sampai 6,0 meter,” jelasnya, Rabu (25/8/2021).

Menurutnya, dinamika perubahan SST berpengaruh besar dalam dinamika pembentukan iklim. Untuk perubahan awal SST, bisa positif dan bisa negatif, seperti siklus yang tidak berhenti.

Sedangkan untuk pasang naik air laut, lanjutnya, diperkirakan bisa mencapai 2,0 meter. Dan, surutnya sangat rendah, bedanya jauh mencapai 0,2 meter. Para nelayan juga diimbau untuk berhati-hati dalam melaut, sebab bisa terjadi potensi rob.

Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Rendi Krisnawan, di kantornya, Rabu (25/8/2021). -Foto: Hermiana E. Effendi

“Kondisi pantai selatan Jawa ini sekarang perlu diwaspadai dan nelayan juga harus lebih berhati-hati saat melaut, perhatikan cuaca serta gelombang tinggi karena berpotensi terjadi rob,” tuturnya.

Menurut Rendi, potensi rob masih ada mengingat ketinggian gelombang laut di wilayah perairan dan Samudra Hindia selatan Jawa Tengah dan DIY termasuk dalam kategori sangat tinggi, yaitu mencapai 4,0 – 6,0 meter.

Sementara itu, salah satu nelayan di Kabupaten Cilacap, Slamet, mengatakan saat ini gelombang tinggi mulai terasa, sehingga ia memilih untuk tidak melaut. Selain itu, cuaca juga cenderung tidak menentu, sehingga ia tidak berani untuk berspekulasi tetap melaut.

“Kalau gelombang tinggi dan cuaca ektrem, lebih baik berhenti melaut terlebih dahulu, daripada membahayakan diri sendiri. Selain itu, saat gelombang tinggi, ikan juga lebih sulit untuk ditangkap,” jelasnya.

Untuk mengisi waktu saat gelombang tinggi, lanjut Slamet, nelayan biasanya memperbaiki jaring ataupun kapal. Sehingga saat sudah bisa melaut kembali, jaring dan kapal sudah dalam kondisi bagus.

“Kalau tidak melaut ya tidak ada penghasilan, tetapi bagaimana lagi, sebab risikonya kapal terhantam gelombang. Biasanya kita memperbaiki jaring dan kapal atau ada juga yang berkebun sementara,” kata Slamet.

Lihat juga...