Budi Daya Ular Albino, Harus Rutin Bersihkan Kandang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Membudidayakan hewan peliharaan seperti kucing sudah menjadi hal yang biasa dilakukan oleh sebagian masyarakat. Selain memiliki nilai jual tinggi, budidaya hewan peliharaan berbasis hobi juga semakin banyak dipilih, karena bisa dilakukan di rumah.

Tapi apa yang terjadi jika hewan yang dibudidayakan tersebut adalah ular melata yang selama ini dianggap sebagai hewan ganas dan berbahaya? Itulah yang dilakukan Alan Saputra, warga Kampung Rambutan, Jakarta Timur.

Ular albino hasil budi daya Alan Saputra siap dipasarkan, Senin (30/8/2021). Foto: Sri Sugiarti.

Alan mengaku tertarik dengan hewan eksotik ini sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ketertarikannya karena dia berteman dengan komunitas reptil yang kesehariannya bergelut dengan hewan melata seperti ular.

Alan pun menjadi tidak takut untuk memegang ular-ular tersebut. Hingga akhirnya dia memelihara hewan melata yaitu ular albino di rumahnya.

“Di keluarga yang tertarik pelihara ular cuma saya. Ular albino ini hewan eksotik, tidak berbahaya karena tidak berbisa,” ujar Alan, kepada Cendana News ditemui di tokonya di Jalan Pengantin Ali, Ciracas, Jakarta Timur, Senin (30/8/2021).

Ular albino miliknya kerap diikutsertakan kontes. Menurutnya, kontes ular menjadi tren di kalangan komunitas reptil dan juga pehobi hewan melata ini.

“Penilaian kontes itu corak, motif, kontras dan warna dari ular. Kontes itu juga memperbanyak teman pecinta reptil, bisa saling tukar informasi tentang perawatan,” urainya.

Karena dirasa semakin banyak jumlah pehobi ular di Indonesia, hingga saat ini terus berkembang. Kemudian, Alan memfokuskan diri untuk melakukan usaha budi daya ular albino.

“Kalau memelihara ular sejak SMP ya, karena ular ini merupakan hewan peliharaan yang eksotik. Tapi untuk membudidayakan tahun 2014, karena banyak yang mencari dan ingin memelihara sebagai binatang peliharaan di rumah,” ujar pria kelahiran Jakarta, 32 tahun lalu.

Alan mengaku fokus membudidayakan ular albino. Meski tidak berbisa, ular satu ini dikenal sebagai jenis ular yang sangat eksotik. Ukuran ular dewasa bisa mencapai hingga belasan meter.

“Saya memiliki beberapa jenis ular albino. Yaitu tiger, super tiger, platinum, sign player, dan ballpython. Semua ular budidayanya itu hasil peranakan atau kawin antara albino jantan dan betina,” ujarnya.

Dia menjelaskan dalam perkembangbiakan ular albino ini, dari mulai melakukan masa kawin dan bertelur setiap setahun sekali. Yakni sekitar pertengahan tahun pada bulan Juni-Juli.

Dalam sekali kawin, satu ekor indukan ular albino bisa menghasilkan sebanyak 30 telur. Setelah dimasukkan inkubator selama 100 hari, telur-telur ular itu akan menetas.

“Biasanya sekali kawin seekor ular albino indukan itu menghasilkan 30 butir telur. Dari jumlah itu sekitar 27 telur yang menetes dalam waktu 3 bulan 10 hari,” ujar Alan.

Untuk perawatan ular albino ini menurutnya, sangat mudah. Cukup diberikan makan setiap seminggu sekali. Biasanya pakan berupa ayam hidup. Sekali kasih makan dua ekor tikus putih. Sedangkan untuk ular ukuran kecil biasa cukup satu ekor tikus putih.

Agar ular selalu dalam kondisi sehat, Alan biasa memandikan ular peliharaannya setiap empat hari sekali. Setelah itu menjemurnya hingga kering di bawah sinar matahari.

“Tapi sinar mataharinya jangan terlalu panas, nanti ularnya beku dan kaku karena kepanasan,” ujarnya.

Terpenting lagi kata dia, untuk mencegah sejumlah penyakit, kandangnya harus rutin dibersihkan agar tidak kotor dan lembab.

“Kalau ularnya buang kotoran atau pipis, maka kandangnya harus segera dibersihkan jangan menunggu waktu lama. Ini untuk kesehatan ularnya,” ujar Alan.

Dia mengaku budi daya ular albino ini sangat menguntungkan. Karena dari mulai telurnya menetes dengan ular panjang kisaran 65-80 sentimeter itu sudah bisa dipasarkan.

“Satu ekor ular albino itu harga mulai Rp 2 juta hingga Rp 40 juta. Yang beli ke saya lebih banyak kisaran usia setahun setengah, dengan panjang 2 meteran itu harganya Rp 4,5 jutaan per ekornya. Tapi ada juga di atas usia itu, dengan harga lebih mahal ya,” ujar Alan.

Menurutnya, pasar ular albino terbuka di seluruh Indonesia, mulai dari Jawa hingga luar Jawa. Pembelinya adalah para pehobi binatang reptil yang bergabung dalam berbagai komunitas.

“Pembelinya itu pehobi, anggota komunitas reptil dan pemula yang memang mencoba untuk pelihara ular albino ini karena ketertarikannya. Ada juga seller yang beli ke saya, untuk dijual lagi,” paparnya.

Alan mengaku dalam sebulan bisa terjual 5 ekor ular albino dan kadang lebih. Namun di masa pandemi Covid-19 ini penjualan sepi turun drastis.

“Dulu sebulan itu bisa 5 ekoran ular yang terjual, tapi masa pandemi ini cuma 1 ekor. Mudah-mudahan wabah corona ini cepat berakhir, jadi animo pehobi ular albino bergairah lagi,” ujarnya.

Hendarko (28) penyuka hewan melata ini mengaku sudah dua tahun memelihara ular albino. Karena menurutnya, corak motif dan warna kuning ular ini sangat menarik.

“Awalnya saya pelihara ular sanca ya, ikut kontes pernah. Tapi pas lihat ular piton, saya tertarik untuk pelihara dan merawatnya. Lalu, saya membeli di sini, itu sekitar dua tahun lalu ya. Ini datang lagi mau lihat ular albino, kalau ada yang bagus ya beli,” ujar Hendarko yang ditemui di toko reptil milik Alan itu.

Lihat juga...