Buruknya Akses Internet Hambat Digitalisasi Produk UKM Warga Desa Pagerharjo

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Buruknya akses jaringan internet, membuat para pelaku UKM di desa Pagerharjo, Samigaluh, Kokap, Kulonprogo masih belum mampu memaksimalkan promosi produknya. Padahal selama ini desa tersebut dikenal kaya akan beragam produk lokal, mulai dari olahan pangan, komoditas pertanian, hingga potensi di sektor pariwisata dan budaya.

Ketua Bumdes Binangun Pagerharjo, Sri Hardani, Selasa (24/08/2021). Foto: Jatmika H Kusmargana

Terletak di kawasan terpencil perbukitan Menoreh ujung barat Kulonprogo, desa Pagerharjo selama ini memang cukup tertinggal dalam hal pemanfaatan teknologi dibandingkan wilayah lainnya. Kondisi wilayah yang sulit terjangkau serta medan yang sulit, ditengarai menjadi penyebabnya.

“Disini tidak semua jaringan telpon seluler bisa diakses. Hanya operator tertentu saja. Itupun sinyal kadang muncul kadang hilang. Apalagi untuk akses internet. Jika tidak memanfaatkan jaringan WiFi, sangat menyulitkan,” ujar Ketua Bumdes Binangun Pagerharjo, Sri Hardani, Selasa (24/08/2021).

Saat musim penghujan, kondisi semacam ini akan semakin parah. Selain listrik kerap terputus, jaringan internet yang tersambung dengan WiFi juga akan ikut terputus begitu listrik mati.

“Banyaknya titik blankspot membuat para pelaku UKM sulit mempromosikan produknya dengan memanfaatkan teknologi digital seperti medsos. Kita, BUMDes juga tak bisa maksimal dalam membantu mempromosikan produk milik warga desa,. Padahal di masa pandemi seperti sekarang ini, promosi melalui internet sangat penting,” ungkapnya.

Satu-satunya solusi dalam membantu warga dalam mengakses internet adalah dengan menyediakan akses jaringan internet kabel melalui WiFi ke titik-titik tertentu, termasuk rumah-rumah warga. Namun sayangnya, hal ini belum mampu maksimal dilaksanakan, karena banyak pelaku UKM yang tak mampu membayar biaya ekstra untuk mengakses jaringan internet kabel ini.

“Memang selama ini pemerintah telah memasang dan menyediakan jaringan WiFi gratis. Namun hanya terbatas di kantor BUMDes dan Balai Desa. Selain itu, dulu juga pernah ada program pemasangan WiFi gratis bagi pelaku wisata dan UMKM. Namun jumlahnya sangat terbatas. Sehingga banyak warga yang tidak bisa memanfaatkannya,” katanya.

Sri sendiri hanya bisa berharap agar pihak-pihak terkait khususnya pemerintah kabupaten provinsi maupun pusat dapat melakukan terobosan dalam mengatasi persoalan akses internet di desanya. Misalnya dengan memperbanyak program-program pemasangan jaringan WiFi gratis bagi warga khususnya para pelaku wisata dan UKM yang ada.

Apalagi kawasan desa Pagerharjo dan sekitarnya, tercatat masuk dalam jalur kawasan strategis di kabupaten Kulonprogo yang nantinya akan menjadi penghubung antara bandara YIA Yogyakarta dan Objek Wisata Prioritas Nasional Borobudur, di Magelang Jawa Tengah, melalui jalur bedah Menoreh.

“Jika tidak digratiskan, minimal ada subsidi biaya bagi warga yang hendak memasang jaringan internet melalui WiFi. Karena akses internet ini sangat vital di era digitalisasi seperti saat ini. Jangan sampai warga dengan segala potensinya dibiarkan tertinggal,” ungkapnya.

Sementara itu Carik Desa Pagerharjo, Setiyoko, mengakui buruknya akses internet di desanya mengakibatkan banyak potensi warga, khususnya sektor UKM belum mampu dipromosikan secara maksimal melalui teknologi digital. Padahal di desa Pagerharjo sendiri terdapat sedikitnya 100 UKM yang telah tumbuh. Jumlah itu belum termasuk pelaku usaha di sektor wisata, baik itu kedai kopi hingga homestay.

“Memang kebutuhan akan internet sangat vital untuk mengembangkan ekonomi masyarakat yang berbasis pada sektor pariwisata. Meskipun harus diakui juga perlunya kesiapan SDM masyarakat desa dalam memanfaatkan teknologi digital atau internet tersebut,” kayanya.

Pemerintah desa Pagerharjo sendiri dikatakan telah berupaya mengatasi persoalan ini. Mulai dari meminta perluasan dan perbaikan jaringan pada operator seluler. Memanfaatkan program pemerintah provinsi dan pusat dalam menyediakan internet gratis hingga, mencari alternatif internet murah bagi warga.

“Kita sebenarnya sudah berencana membangun togor (tiang) pemasangan jaringan internet kabel di setiap dusun, untuk memudahkan warga jika ingin memasang jaringan WiFi. Namun biayanya cukup besar sehingga belum bisa kita realisasikan. Alternatifnya adalah dengan memanfaatkan jaringan internet kabel yang memanfaatkan togor PLN. Karena di setiap dusun sudah ada. Sehingga biayanya lebih murah,” pungkasnya.

Lihat juga...