‘Cold Storage’ Kombinasi, Cara Nelayan Optimalkan Hasil Tangkapan

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Keterbatasan alat tangkap bagi nelayan di perairan Teluk Lampung tidak menghalangi kegiatan mencari ikan. Sebagian nelayan memakai perahu, kapal tangkap tradisional mengandalkan sistem pengawetan ikan memakai es balok.

Sejumlah pemilik kapal tangkap ikan semi modern memanfaatkan alat pendingin (cold storage) tenaga listrik. Cold Storage dikombinasikan untuk mengawetkan ikan.

Imanuloh, salah satu nelayan tangkap jenis kapal kasko menyebut memanfaatkan es balok. Nelayan di Lempasing, Kecamatan Teluk Betung Barat itu memanfaatkan cold storage sederhana. Bahan kotak dari plastik, styrofoam diberi es balok yang telah dipecah sebagian dibiarkan utuh. Ia memerlukan sebanyak sepuluh cold storage buatan sendiri untuk menghemat bahan bakar.

Penggunaan cold storage tenaga listrik sebutnya memakai bahan bakar solar. Sebagai solusi sebagian nelayan memilih memakai cold storage buatan sendiri. Beberapa nelayan dengan kapal lebih modern memiliki alat cold storage untuk menyimpan ikan hasil tangkapan. Penggunaan cold storage berpotensi menjaga daya tahan ikan tetap segar tanpa memakai bahan kimia berbahaya.

“Sebagian nelayan tangkap masih mengandalkan cold storage portable yang dibuat sendiri sehingga hasil tangkapan ikan bisa awet hingga proses pelelangan, pendistribusian ke pasar sehingga ikan tetap segar saat dibeli oleh konsumen dan harga jual tetap stabil dengan kondisi ikan yang berkualitas,” terang Imanuloh saat ditemui Cendana News, Senin (2/8/2021).

Penggunaan es balok digunakan Imanuloh, salah satu nelayan di Pelabuhan Perikanan Lempasing, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung menjadi sarana pengawetan ikan di perairan Teluk Lampung, Senin (2/8/ 2021). -Foto Henk Widi

Imanuloh bilang per balok es dibeli seharga Rp35.000 dengan kebutuhan sebanyak 10 balok. Es balok sebutnya akan dipotong menjadi dua bagian agar bisa masuk dalam box plastik, styrofoam. Sebagian akan dihancurkan saat ikan hasil tangkapan diperoleh. Penangkapan ikan memakai cold storage tradisional sebutnya bisa berlangsung selama dua hari.

Ikan hasil tangkapan sebut Imanuloh sebagian akan disimpan pada cold storage darat. Unit cold storage permanen disediakan oleh pengelola pelabuhan perikanan Lempasing sebelum dikirim ke pasar. Meski demikian ia menyebut nelayan memilih menghemat pengeluaran dengan memakai es balok. Tanpa mengeluarkan bahan bakar lebih banyak, ia bisa mengawetkan ikan.

“Meski cold storage permenen tenaga listrik lebih bagus namun biaya operasional lebih besar sehingga nelayan pilih yang lebih hemat,” ulasnya.

Rasmin, salah satu pemasok bahan bakar solar menyebut kerap mendapat pesanan dari nelayan. Sebagian nelayan memanfaatkan solar untuk bahan bakar tenaga penggerak kapal nelayan. Nelayan lain memanfaatkan solar untuk cadangan penggerak mesin cold storage. Ia lebih banyak menerima permintaan solar dari nelayan yang akan melaut di perairan Teluk Lampung.

“Bahan bakar solar sebagian digunakan sebagai cadangan untuk melaut, mesin diesel khusus menyalakan lampu,” ulasnya.

Ana Susanti, salah satu pengepul ikan menyebut cold storage kombinasi diperlukan pelaku usaha perikanan. Bagi pengepul ikan laut yang akan mengandalkan es balok ikan bisa menjaga kesegaran ikan. Penggunaan es balok sebutnya bisa menjaga kesegaran ikan dari nelayan, pengepul hingga pedagang pengecer. Penggunaan es balok untuk pendingin ikan menghindari pembusukan, kerugian bagi pengepul.

Saat kondisi cuaca buruk dengan ikan laut sulit diperoleh, Ana Susanti menyebut ia masih bisa menyimpan ikan. Penyimpanan dilakukan dengan memakai cold storage permanen bertenaga listrik di rumah. Penyimpanan ikan dilakukan dengan sistem sortir berdasarkan jenis. Ikan yang disimpan memakai cold storage tenaga listrik mampu menyimpan ikan hingga satu bulan. Saat minim tangkapan ikan ia masih bisa menjualnya pada konsumen.

Lihat juga...