Cuaca Terik di Semarang, Es Tebu hingga Dawet Laris Manis

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Musim kemarau yang ditandai dengan cuaca panas terik, menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang minuman di Kota Semarang. Beragam olahan minuman seperti es cendol, es tebu, kelapa hijau, legen siwalan, es durian, hingga alpukat kocok, menjadi obat mujarab untuk mengatasi tenggorokan yang kering karena kehausan.

Tak pelak, di saat musim kemarau seperti sekarang ini, para pedagang minuman kaki lima di Kota Semarang, laris manis dibeli warga.

“Alhamdulillah, laris sejak dari tadi siang sudah banyak yang beli. Cuaca Semarang sekarang ini memang lagi panas-panasnya, ya paling enak kalau cuaca panas itu minum minuman yang enak dan menyegarkan,” papar Wati, pedagang es sari tebu saat ditemui di sela berjualan di kawasan Banyumanik, Semarang, Selasa (31/8/2021).

Jelang sore ini dirinya mengaku sudah menjual puluhan gelas es tebu, yang dijualnya Rp5.000 per gelas tersebut.

“Jumlah pastinya lupa, tapi ada kalau 50 -60 gelas. Cukup banyak dibanding rata-rata sehari sekitar 30 gelas. Apalagi, rata-rata mereka yang beli minimal dua gelas untuk dibawa pulang,” terangnya.

Wati menuturkan, meski es tebu tersebut merupakan minuman yang sederhana, namun karena diolah dari tebu asli, menjadikan rasanya enak dan manis.

“Langsung dibuat dari batang tebu yang diperas pakai mesin pengepres. Air tebu yang keluar ditampung dalam wadah, kemudian dipindahkan dalam gelas dan diberi es batu. Sederhana, tapi enak, manis khas tebu,” ungkapnya.

Dalam berjualan, dirinya dibantu sang suami yang bertugas untuk membersihkan dan mengupas kulit tebu, untuk kemudian diolah menjadi minuman sari tebu. Bahan baku tersebut dibelinya di pasar tradisional yang ada di Kota Semarang.

“Hasilnya lumayanlah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.

Hal yang sama juga dialami pedagang es dawet, Wardi. Saat ditemui di sela berjualan keliling di wilayah Tembalang, Semarang, pria asal Purwodadi tersebut mengaku dawet dagangannya banyak dibeli masyarakat.

“Per gelas Rp5.000, murah meriah. Biar banyak yang beli,” terangnya.

Diakuinya, sejak musim kemarau pada awal bulan ini dagangannya banyak yang membeli. Terutama ketika berjualan di sekitar kawasan padat penduduk.

“Ya jualannya masuk ke kampung-kampung, kalau dulu masih ada anak sekolah, julannya di sekitar sekolahan, namun karena sekarang belum masuk semua, ya jualannya keliling,” terangnya.

Seharian berjualan, dirinya mengaku bisa menjual 30-40 gelas, bahkan kalau sedang ramai bisa 50-60 gelas.

“Cukup, apalagi dawetnya saya buat sendiri. Jadi, modalnya juga tidak besar. Hanya butuh santan sama gula jawa untuk pemanis,” ucapnya.

Ayah dua anak tersebut juga mengakui di saat musim kemarau seperti sekarang ini, menjadi saat yang tepat untuk mencari keuntungan sebanyak mungkin. “Mumpung musim penghujan masih jauh, jualan sebanyak mungkin,” pungkasnya.

Lihat juga...