Di Pasar Klewer, Pak Harto Menggagas Strategi Pembangunan

TAK berselang lama pascadilantik sebagai Presiden RI oleh MPRS pada 27 Maret 1968 setelah sebelumnya menjalani tugas sebagai Penjabat Presiden selama satu tahun, Pak Harto menginjakkan kakinya di Pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah, pada 9 Juni 1971. Dari pasar inilah mencuat gagasan pembangunan Indonesia.

Dalam kesempatan acara peresmian bangunan pasar tersebut, Presiden Soeharto menyampaikan pidato tanpa teks. Pak Harto bilang bahwa masyarakat yang adil dan makmur hanya bisa terwujud bilamana kita melakukan serangkaian pembangunan dalam segala bidang. Dan, itu akan terbentuk, tandasnya, bilamana kita bisa membangun dan mengembangkan industri dan agraria yang seimbang.

“Masyarakat adil dan makmur tidak akan jatuh dari langit, harus diperjuangkan melalui pembangunan secara bertahap, serta diperlukan landasan yang kuat, ialah industri yang didukung pertanian yang tangguh,” kata Pak Harto.

Tak sampai di situ, Pak Harto lantas mendetailkan gagasannya tentang strategi pembangunan. Ia mengatakan, pembangunan bidang pertanian tidaklah terlalu sulit mengingat Indonesia telah memiliki beberapa prasarana yang dibutuhkan untuk itu. Pak Harto menilai bahwa pembangunan industri lebih sulit, karena banyak prasarana yang belum dimiliki.

“Untuk membangun industri mutlak kita memerlukan modal yang tidak hanya rupiah, melainkan juga devisa untuk memasukkan mesin-mesin dan barang modal lainnya. Di samping itu kita memerlukan skill, keahlian. Tanpa itu kita tidak akan bisa mengembangkan industri. Di samping itu, kita harus menguasai teknologi,” bebernya.

Pada tahun 1971, kata Pak Harto, kita berada pada tahap pembangunan industri yang mendukung pertanian. Kedengarannya sangat sederhana. Tetapi kegiatan yang sebenarnya meliputi pelbagai lapangan yang sangat luas.

“Kita harus mendirikan industri yang mampu membuat alat-alat pertanian dan prasarana pertanian seperti pupuk, obat-obatan, irigasi pertanian, dan lain-lainnya. Lalu, kita harus mampu untuk memasarkan hasil pertanian. Dan itu berarti kita harus mendirikan industri yang menyimpan dan melakukan pengangkutan produksi itu. Dengan begitu, kegiatan dalam membangun industri yang mendukung pertanian itu merupakan kegiatan yang luar biasa dan memakan biaya yang tidak sedikit serta memerlukan tenaga yang tidak kecil,” urai Pak Harto.

Pada tahap berikutnya, lanjut Pak Harto, ialah sambil menyempurnakan industri untuk mendukung pertanian itu, kita harus segera membangun industri yang mengolah pertanian itu, kita harus segera membangun industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku industri. Untuk itu sekali lagi, kita memerlukan modal guna mengolah pasir besi menjadi besi baja, mengolah bauksit menjadi aluminium, dan lain sebagainya.

Setelah kita bisa mengolah bahan mentah menjadi bahan baku industri, dalam tahap berikutnya, kata Pak Harto, kita harus mendirikan industri yang bahan bakunya telah kita sediakan menjadi barang jadi. Dalam tahapan berikutnya lagi, kita akan mengembangkan industri yang sanggup membuat mesin-mesin guna menjamin kelangsungan industri yang sudah ada dan membuat industri yang baru.

“Begitulah kita memerlukan tahapan-tahapan itu. Kalau untuk setiap tahap kita memerlukan lima tahun, maka untuk lima tahap kita memerlukan waktu 25 tahun. Dalam waktu sepanjang itu, baru kita akan sampai pada landasan yang penting, yaitu perkembangan industri dan pertanian yang seimbang. Pada waktu itu baru akan ada jaminan untuk memulai mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila,” tandas Pak Harto.

Dari gagasan Pak Harto yang mencuat di Pasar Klewer itu, dijadikan bahan utama untuk penyusunan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) oleh para menterinya yang kemudian disahkan oleh MPR hasil Pemilu I di era Orde Baru. Gagasan ini juga diperjuangkan Pak Harto secara terus menerus dan konsisten sebagai strategi pembangunan sampai akhir pemerintahannya.

Salah satu tugas pokok Kabinet Pembangunan di masa Presiden Soeharto adalah menyusun Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Para menteri bersama Pak Harto merumuskan tujuan serta sasaran Repelita. Setiap Repelita memiliki tujuan dan sasaran yang spesifik, namun memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya.

Repelita (ketika dilaksanakan disebut Pelita), merupakan salah satu bentuk inovasi pembangunan nasional yang pertama kali dipraktikkan oleh Pak Harto. Sebuah model perencanaan yang kelak menjadi patron pemerintahan Orde Baru dalam melaksanakan pembangunan bangsa.

Repelita tersebut ditempatkan dalam sebuah kerangka pedoman yang lebih menyeluruh dan berjangka panjang yang dikenal sebagai GBHN. ***

Penulis: Makmun Hidayat, disarikan dan olah dari buku “50 Inisiatif Pak Harto untuk Indonesia & Dunia” karya Mahpudi, diterbitkan Yayasan Harapan Kita (2016).

Lihat juga...