Jalan Raya Legok Jadi Area Sampah Liar, Warga Minta Diangkut

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Petugas kebersihan di Kota Bekasi, Jawa Barat, kewalahan mengatasi banyaknya tempat pembuangan sampah liar yang terus marak di berbagai sudut tanpa mengenal tempat, asalkan jalan sepi dijejali aneka sampah.

Pantauan Cendana News, sampah liar kian marak, berceceran di tiap jalan sepi di antara rerumputan liar. Pemandangan itu banyak ditemukan di wilayah Jatiasih dan Pondok Melati, salah satunya terjadi tumpukan di Jalan Raya Legok, perbatasan antara Pondok Melati dan Jatiasih.

Lokasi itu berlokasi sebelum bundaran Pasar Kecapi. Tumpukan sampah liar di tikungan sepi, seolah dibiarkan begitu saja. Fenomena ini, terus terjadi seakan tidak ada solusi karena berbagai upaya pun telah dilakukan petugas kebersihan.

“Kami sering tegur, kalau kelihatan pas buang, tapi ya begitu biasanya waktu sepi. Padahal di situ ada rumah warga, tapi memang bagian belakang,” ujar Dimas, warga Legok Jatimekar, kepada Cendana News, Rabu (4/8/2021).

Dimas, warga Jalan Raya Legok, Jatimekar, Rabu (4/8/2021). -Foto M. Amin

Dimas berharap petugas kebersihan bisa mengangkat sampah yang berada tepat di samping rumahnya tersebut karena sudah menumpuk dan mengeluarkan aroma tak sedap di lingkungan sekitar berasal dari tumpukan sampah tersebut.

Menurutnya, kondisi tumpukan sampah di Jalan Raya Legok tepatnya sebelum bundaran Kecapi sudah lama terjadi dan setiap hari pasti nambah sumbangan dari pelintas di lokasi itu.

“Sebenarnya tidak hanya pelintas yang sengaja membuang sampah di lokasi itu. Terkadang mobil pengangkut sampah, saat di lokasi itu jatuh, karena jalannya berlobang dan lokasinya persis di tikungan,” ujar Dimas mengaku lebih banyak akibat perilaku tak disiplin warga yang membuang sampah sembarangan saat melintas.

Konfirmasi terpisah, UPTD LH Pondok Melati, Hendri, mengakui disiplin warga masih minim untuk tidak membuang sampah sembarangan. Biasanya tempat sepi kerap jadi sasaran.

“Ini memerlukan peran semua pihak. Tidak hanya petugas kebersihan sebenarnya. Karena kewalahan juga setelah diangkut, tapi setelah itu kembali menumpuk sampah baru. Harus ada edukasi dari tingkat RT/RW sebenarnya,” jelas Hendri.

Karena menurutnya, untuk menjaga lokasi itu terbatas. Ia mencontohkan seperti di jalur alteri, lahan kosong yang biasa jadi tempat sampah liar diubah jadi taman saat ini sudah bersih. Artinya kesadaran bersama sangat diperlukan untuk menjaga lingkungan.

“Satu sisi terus dibersihkan, tapi ada pihak yang sengaja membuang sampah. Pengelolaan sampah tiap lingkungan sudah terbentuk, tapi itu kembali kepada kesadaran dalam menjaga lingkungan bersama,” pungkasnya.

Lihat juga...