Kasus Covid-19 di Sikka, Turun

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE-  Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka, NTT, Adrianus Firminus Parera, menyatakan, kondisi perkembangan kasus Covid-19 di Kabupaten Sikka kian membaik dari hari ke hari terutama selama pemberlakukan PPKM Level IV.

Dijelaskannya, hingga tanggal 31 Juli 2021, angka positif rate kasus Covid-19 menurun dari 15 persen menjadi 7,65 persen.

Lanjutnya, angka rasio kesembuhan pasien pun mengalami peningkatan hingga mencapai angka 87,06 persen sementara pasien yang menjalani perawatan pun menurun hingga 461 orang.

“Kasus kematian kita memang masih tinggi yakni 2 persen. Soal statusnya apakah kita turun ke level 3 atau lainnya atau masih tetap berada di level 4, semuanya tergantung keputusan dari menteri dalam negeri,” ujarnya, saat ditemui di kantor Bupati Sikka, Senin (2/8/2021).

Pihaknya juga masih menunggu keputusan Mendagri soal status PPKM Level IV apakah diperpanjang atau tidak.

Sedangkan juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sikka, dr. Clara Yosefine Francis mengatakan, status level IV atau berapa pun tentu merupakan kerja keras semua elemen.

Clara menegaskan, kesadaran dan kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan menjadi kunci mencegah penularan kasus Covid-19.

Sambungnya, Satgas Covid-19 terutama tenaga kesehatan akan mengalami kesulitan ketika terjadi lonjakan pasien mengingat keterbatasan ruangan di 3 rumah sakit yang ada di Kabupaten Sikka.

“Kita selalu berharap agar kesadaran dan kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan bisa lebih baik. Semua kita harus bahu membahu mengatasi penularan Covid-19, bukan hanya pemerintah saja,” ucapnya.

Sementara itu, Konradus Rindu, salah seorang pegiat pariwisata di Kabupaten Sikka mengakui, dampak dari meningkatnya kasus Covid-19 membuat wisatawan domestik pun mengurungkan niat bepergian.

Konradus menyebutkan, aturan bepergian yang harus melewati banyak proses dan prosedur serta membutuhkan waktu ekstra untuk mengurus berbagai persyaratan membuat banyak wisatawan malas bepergian.

“Untuk bepergian orang harus melewati banyak proses sehingga membutuhkan tambahan waktu dan biaya. Ini yang menyebabkan wisatawan domestik pun malas berwisata saat pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Konradus mengatakan, untuk wisatawan asing selain belum ada tanda-tanda akan dibuka kunjungan wisatawan, tour agent pun masih memantau data perkembangan Covid-19 di Indonesia yang belum mengalami penurunan signifikan.

Lihat juga...